Sebuah klinik spesialis di Singapura mulai memanfaatkan teknologi wearable untuk membantu pemantauan kesehatan jantung sekaligus mengurangi kebutuhan pertemuan tatap muka. Salah satu perangkat yang digunakan adalah tambalan Holter, yang memungkinkan deteksi kelainan jantung lebih dini tanpa membatasi mobilitas pasien.
Chan Po Fun, konsultan kardiologi di Cardiac Care Partners, Mount Elizabeth Medical Centre, menjelaskan bahwa perangkat wearable dapat mengukur tekanan darah dan detak jantung secara kontinu, lalu mengirimkan data ke sistem. Menurutnya, pendekatan ini dapat mengurangi kebutuhan perawat untuk mencatat tekanan darah secara manual saat pemeriksaan rutin.
Pasar smartwatch kesehatan diproyeksikan tumbuh
Pemanfaatan perangkat pemantau kesehatan juga sejalan dengan pertumbuhan pasar. Laporan Research and Markets memproyeksikan pasar global smartwatch dengan fitur monitor kesehatan akan tumbuh 11,3% per tahun, dan mencapai US$100,8 miliar pada 2030 dari 2024.
Tambalan Holter untuk mengurangi kunjungan langsung
Chan mengatakan, Cardiac Care Partners menggunakan tambalan Holter untuk memantau dan mendeteksi gangguan jantung sedini mungkin. Ia menekankan bahwa perangkat tersebut tidak memerlukan kabel listrik, sehingga pasien dapat bergerak lebih bebas. Dampaknya, kebutuhan pertemuan tatap muka dapat berkurang.
Kekurangan tenaga kesehatan mendorong adopsi teknologi
Laporan Philips 2024 Health Index mencatat 75% pemimpin di bidang kardiologi di seluruh dunia menilai kekurangan tenaga kerja telah memengaruhi layanan pasien. Kondisi ini mendorong pencarian solusi yang lebih canggih, termasuk di kawasan Asia-Pasifik, di mana kekhawatiran utama adalah keterlambatan dalam perawatan.
Mark Burby, wakil presiden Health Systems Philips untuk kawasan Asia-Pasifik, menyatakan para ahli jantung semakin mengandalkan pemantauan pasien jarak jauh, perawatan virtual, AI, serta otomatisasi.
Peran GenAI dalam perawatan preventif
Burby juga menilai generative AI (GenAI) berpotensi meningkatkan perawatan preventif penyakit kardiovaskular. Menurutnya, penggabungan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari GenAI dengan analitik prediktif dan rekam medis pasien dapat membantu klinisi membuat prediksi penyakit yang lebih akurat.
Ia menambahkan, Singapura diperkirakan semakin banyak mengadopsi teknologi tersebut. Dalam 12 bulan ke depan, 89% pemimpin layanan kesehatan di Singapura disebut telah berinvestasi atau berencana berinvestasi dalam GenAI, lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 62%.
Kebutuhan ekosistem yang mendukung
Burby menekankan pentingnya lingkungan yang kondusif agar adopsi teknologi berjalan efektif, termasuk peningkatan layanan kesehatan jantung dan memastikan aksesibilitasnya. Ia menilai diperlukan kerja bersama untuk mentransformasi cara perawatan diberikan dan dialami secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Chan turut menyoroti perlunya kolaborasi antara penyedia layanan kesehatan dan ahli teknologi untuk menyederhanakan proses perawatan jantung. Ia menegaskan bahwa hal-hal yang bisa diotomatisasi sebaiknya diotomatisasi agar tenaga kesehatan dapat fokus pada tugas yang belum dapat dilakukan oleh mesin. Menurutnya, sektor kesehatan terus mencari cara untuk mengurangi beban kerja sekaligus meningkatkan kapasitas setiap anggota tim.