Gadget seperti ponsel, tablet, dan laptop kerap menjadi bagian dari keseharian anak. Namun, perangkat ini dapat diibaratkan seperti dua mata pisau: bisa memberi manfaat jika digunakan dengan tepat, sekaligus membawa risiko jika dipakai berlebihan.
Sebuah penelitian mengungkapkan, 30% anak berusia di bawah enam bulan sudah terpapar gadget dengan rata-rata durasi penggunaan sekitar 60 menit per hari. Saat usia dua tahun, paparan meningkat pada 9 dari 10 anak. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu gangguan ketergantungan layar gadget atau Screen Dependency Disorder (SDD).
Berikut sejumlah dampak yang dapat muncul ketika anak terlalu sering menggunakan gadget.
1. Menurunkan aktivitas fisik
Paparan gadget yang berlebihan dapat membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu secara pasif—duduk atau tiduran sambil menatap layar—ketimbang bergerak, bermain di luar, atau berolahraga. Kurangnya stimulasi fisik pada usia dini dapat berdampak pada pertumbuhan fisik dan kesehatan anak.
2. Menghambat kemampuan bahasa
Kebiasaan bermain smartphone secara berlebihan disebut sebagai salah satu faktor risiko keterlambatan bicara (speech delay) yang kerap tidak disadari orang tua. Penelitian tahun 2018 melaporkan, tambahan durasi bermain ponsel 30 menit per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan bahasa ekspresif sebesar 2,3 kali lipat. Gangguan ini terjadi ketika anak dapat memahami ucapan orang lain, tetapi kesulitan merangkai kata untuk merespons atau menyampaikan apa yang ingin dikatakan.
3. Mempengaruhi kondisi psikologis
Sebagian gim atau tontonan dapat memuat kekerasan, ucapan kasar, atau adegan yang tidak sesuai usia. Anak usia dini yang cenderung meniru berisiko mencoba mencontoh perilaku yang dilihat, sementara kemampuan membedakan benar dan salah belum terbentuk kuat. Anak yang sudah menunjukkan ketergantungan umumnya mudah marah saat gadget dijauhkan, tantrum ketika diambil, menolak berhenti meski sudah diingatkan, serta tidak tertarik bermain dengan teman.
4. Membentuk kepribadian pasif
Terlalu sering menatap layar dapat membuat anak menjauh dari interaksi dengan keluarga dan teman sebaya. Akibatnya, kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi bisa terhambat dan berpotensi terbawa hingga dewasa. Penelitian tahun 2018 dari Universitas Negeri Yogyakarta melaporkan anak sekolah yang “kecanduan” ponsel cenderung lebih pasif, seperti individualis, tertutup, apatis, rasa sosial rendah, pola pikir cenderung irasional, suka mencari cara mudah, dan kurang simpati.
5. Mengganggu kemampuan belajar
Kecanduan gadget dapat memengaruhi kemampuan kognitif dalam belajar dan mengolah informasi sehingga berdampak pada pencapaian akademis. Dalam konteks sekolah, anak dapat kesulitan memahami materi, cepat kehilangan minat belajar, dan kurang tertarik membaca buku. Risiko gangguan fungsi kognitif disebut meningkat bila paparan dimulai sejak usia dini.
6. Memicu pola tidur yang buruk
Anak yang asyik bermain ponsel bisa lupa waktu hingga mengganggu jam tidur. Paparan ponsel dan perangkat elektronik lain juga dikaitkan dengan perubahan aktivitas otak dan kesulitan tidur, bahkan dapat memunculkan tanda-tanda stres. Kurang tidur berpotensi membuat anak mengantuk di sekolah sehingga sulit fokus.
7. Memperburuk postur tubuh
Kebiasaan duduk membungkuk, kepala tertunduk, dan mata terpaku pada layar dalam waktu lama dapat memicu nyeri punggung dan gangguan otot. Jika tidak ditangani, nyeri leher dan punggung sejak dini berisiko memengaruhi postur hingga dewasa.
8. Membuat mata cepat lelah
Penggunaan gadget yang terlalu sering dapat memicu keluhan pada mata. Anak bisa mengalami mata kering karena lebih jarang berkedip, sering mengernyit akibat kontras layar yang terlalu silau atau terlalu gelap, dan keluhan yang berlarut dapat memengaruhi kualitas penglihatan.
Untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan, orang tua perlu memahami kapan waktu yang tepat memperkenalkan gadget dan membatasi penggunaannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan panduan durasi penggunaan layar (screen time) sebagai berikut:
- Usia 0–2 tahun: tidak diberikan akses ponsel hingga berusia 2 tahun, terutama jika hanya untuk menenangkan atau menghibur anak.
- Usia 2 tahun: maksimal 1 jam per hari; semakin sedikit semakin baik.
- Usia 3–5 tahun: maksimal 1 jam per hari; dapat digunakan untuk hiburan non-edukasi seperti membaca e-book, tetapi total durasi tetap mengikuti batas yang direkomendasikan.
Selain membatasi durasi layar, sejumlah langkah lain juga disarankan, seperti memperbanyak aktivitas fisik di luar ruangan. Para ahli menyarankan anak menghabiskan setidaknya tiga jam per hari di luar sebagai pencegahan risiko miopia atau rabun jauh. Anak juga dianjurkan mendapatkan tidur yang cukup dan tidak menggunakan ponsel setidaknya satu jam sebelum tidur.
Orang tua juga dapat mendorong anak aktif berinteraksi dengan teman sebaya agar keterampilan sosial dan kemampuan membangun hubungan dapat berkembang lebih baik.