Penipuan berkedok spiritualitas kian marak dan semakin canggih di internet. Pelaku memanfaatkan kebutuhan sebagian orang untuk mencari ketenangan, keberuntungan, dan rasa aman, terutama pada momen awal tahun, melalui layanan ramalan, ritual jarak jauh, hingga penjualan barang feng shui.
Salah satu korban, Nguyen Mai, warga komune Hoa Lac, Hanoi, mengaku rutin mencari informasi peruntungan dirinya dan keluarga setiap awal tahun. Saat menjelajahi media sosial, ia menemukan unggahan yang menawarkan analisis keberuntungan. Setelah menghubungi pemilik akun, ia diberi tahu akan menghadapi banyak rintangan dan disarankan membeli gelang feng shui seharga 2 juta VND agar tahun berjalan lancar. Nguyen Mai kemudian mentransfer uang tersebut, namun gelang tak kunjung diterima. Ketika ia kembali menghubungi akun itu, pesan-pesannya diblokir.
Nguyen Mai menuturkan awalnya ia hanya penasaran karena konten terkait sering muncul di linimasa saat ia mencari topik spiritual. Namun, ia menjadi khawatir setelah pemilik akun mengaitkan ramalan dengan risiko di tempat kerja, bahkan menyebut kemungkinan harus membayar kompensasi jika tidak segera memakai gelang tersebut. “Saya tidak menyangka akan menjadi korban penipuan,” katanya.
Kasus serupa dialami seorang perempuan berinisial NH di Hanoi. Ia tertipu 2,5 juta VND setelah mencari layanan “persembahan bintang dan penghapusan kesialan” secara online. Korban menemukan sebuah halaman penggemar dengan nama yang mirip kuil terkenal dan menampilkan foto upacara yang terlihat khidmat, termasuk “sertifikat pahala”, sehingga meyakinkan korban. Namun, hanya beberapa menit setelah transfer dilakukan, korban diblokir, dan halaman tersebut menghilang. Setelah itu, korban juga mengalami gangguan berupa panggilan telepon yang mengajaknya meminjam uang atau berinvestasi, diduga akibat kebocoran data pribadi, sehingga mengganggu kehidupan sehari-harinya.
Pola penipuan umumnya dimulai dari konten yang dipublikasikan secara luas dengan tawaran menarik, seperti konsultasi gratis, ramalan gratis, atau analisis bintang baik dan buruk. Pelaku disebut dapat menggunakan perangkat lunak untuk membuat prediksi yang tampak cukup akurat demi membangun kepercayaan. Setelah korban mulai percaya, pelaku meningkatkan tekanan dengan ancaman atau narasi yang memicu kecemasan dan ketakutan.
Dari situ, korban diarahkan untuk melakukan ritual, membeli barang feng shui, atau layanan lain dengan biaya mulai dari beberapa juta hingga puluhan juta dong. Bahkan ketika korban tidak memiliki cukup uang, pelaku dapat menurunkan harga, mengaku bekerja dengan “ketulusan”, atau menawarkan program promosi jangka pendek untuk mendorong korban segera mentransfer uang.
Berbagai bentuk modus yang disebut muncul antara lain ramalan online, penghapusan nasib buruk jarak jauh, janji “membuka jalan menuju kekayaan dan keberuntungan”, penjualan jimat cinta maupun jimat keberuntungan, hingga klaim dapat mengubah nasib dan menghilangkan kemalangan. Seluruhnya dirancang sebagai “jebakan” yang menargetkan kepercayaan dan keinginan banyak orang akan keberuntungan.
Letnan Kolonel Le Anh Tuan, Wakil Kepala Departemen 5, Biro Pencegahan dan Pengendalian Kejahatan Siber dan Teknologi Tinggi, Kementerian Keamanan Publik, mengatakan pelaku membuat banyak skenario yang mengeksploitasi kepercayaan dan sikap tergesa-gesa sebagian orang yang ingin mengeluarkan sedikit uang untuk memohon keberuntungan di awal tahun. Ia menyebut pelaku juga membuat situs web dan halaman penggemar, serta menggunakan AI untuk memanipulasi gambar lembaga keagamaan dan spiritual yang sah guna mengeksploitasi kepercayaan masyarakat dan melakukan penipuan.
Menurutnya, dengan dukungan teknologi tersebut, pelaku dapat membuat klip video ritual, membuat akun palsu untuk meningkatkan jumlah pengikut, bahkan membangun ekosistem grup obrolan untuk memikat banyak orang. “Setelah korban kehabisan uang atau menyatakan kecurigaan, akun-akun ini langsung menghilang,” ujarnya.
Dampak penipuan spiritual daring tidak berhenti pada kerugian finansial. Praktik ini juga dinilai mengikis kepercayaan publik dan merusak reputasi lembaga keagamaan tradisional. Selain itu, korban dapat mengalami konsekuensi psikologis, seperti rasa tidak aman, kebingungan, hingga obsesi berkepanjangan karena percaya sedang mengalami “nasib buruk”.
Letnan Kolonel Tuan menambahkan, sebagian korban merasa malu untuk melapor kepada polisi, sehingga memberi ruang bagi pelaku untuk terus beraksi dan menyulitkan proses penyelidikan serta verifikasi kasus.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan membedakan antara kepercayaan yang tulus dan takhayul. Masyarakat juga diminta tidak mempercayai begitu saja ramalan, pengusiran setan, atau praktik spiritual lain yang ditemukan secara online, serta melakukan riset dan verifikasi identitas sebelum bertransaksi di media sosial.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk menghindari pengiriman donasi atau sumbangan terkait spiritualitas ke rekening yang tidak dikenal. Jika menjadi korban, masyarakat diminta segera melapor kepada polisi agar dapat memperoleh bantuan dan penanganan tepat waktu.