Sejumlah warga di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara mengeluhkan penerapan berbagai aplikasi layanan publik di era digital. Mereka menilai, tidak semua masyarakat memahami atau mampu menggunakan aplikasi yang kini menjadi bagian dari proses pelayanan, termasuk di sektor kesehatan.
Keluhan itu disampaikan Engge dalam acara Hallo RRI Tual, Rabu (15/4/2026). Ia mengatakan sebagian masyarakat awam belum tentu mengetahui dan menggunakan aplikasi-aplikasi yang diterapkan pemerintah di kedua daerah tersebut.
Menurutnya, kondisi ini menjadi kendala dalam pelayanan publik, terutama saat mengakses layanan kesehatan. Engge menyoroti penggunaan aplikasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS, yang dinilai menyulitkan masyarakat yang tidak terbiasa dengan teknologi.
“Era digital saat ini masyarakat yang paham bisa santai untuk mengakses atau menjangkau aplikasi contohnya aplikasi yang dipakai oleh puskesmas, kami sebagai masyarakat awam sangat tidak paham dengan aplikasi ini walaupun sudah diberikan keringanan dengan cara pelayanan kesehatan dengan baik tetapi sering terjadi adu mulut terkait dengan nomor antrean,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan perangkat juga menjadi masalah. Engge menyebut sebagian warga menggunakan telepon genggam yang tidak mendukung akses aplikasi, sehingga kesulitan mengikuti prosedur pendaftaran dan antrean yang berbasis digital.
Engge berharap puskesmas memiliki solusi bagi masyarakat yang tidak menggunakan aplikasi JKN agar pelayanan tetap berjalan sesuai prosedur dan tidak memicu perselisihan antar pasien terkait nomor antrean.
Ia juga meminta tenaga medis mempertimbangkan kondisi warga lanjut usia yang datang lebih awal untuk mengambil nomor antrean secara manual. Menurutnya, ada situasi ketika pasien yang telah mengantre sejak pagi harus menunggu lama, sementara pendaftar melalui aplikasi dapat mendaftar dari rumah.
“Tenaga medis itu harus tau juga, bahwa lansia yang suda ada di puskesmas pagi-pagi buta hanya untuk ambil nomor antrean sedangkan masyarakat lain hanya tinggal di rumah lagsung mendaftar, itu yang diutamakan, sementara kami yang sudah antre dari pagi dengan nomor urutan yang di ambil secara manual ini menunggu sampai bejam-jam, harus ada pesan yang disampaikan oleh pihak puskesmas sehingga kami merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang dialami selama ini,” kata Engge.