BERITA TERKINI
Universitas Didukung Jadi Pusat Pelatihan, Riset, dan Inovasi

Universitas Didukung Jadi Pusat Pelatihan, Riset, dan Inovasi

Pengembangan riset dinilai menjadi landasan penting untuk meningkatkan kapasitas universitas di tengah percepatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta transformasi digital. Dalam situasi ini, kebutuhan akan sumber daya manusia berkualitas tinggi—terutama pada bidang teknologi strategis—kian mendesak bagi sistem pendidikan tinggi.

Profesor Madya Hoang Minh Son, Direktur Universitas Nasional Hanoi, menyatakan bahwa penguatan pendidikan tinggi merupakan fondasi untuk meningkatkan kemampuan sains dan teknologi sekaligus memenuhi kebutuhan pembangunan pada era baru. Ia menekankan perguruan tinggi perlu berfokus pada pelatihan sumber daya manusia dan talenta berkualitas tinggi, khususnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, dan transformasi digital, guna memenuhi persyaratan pelaksanaan resolusi Politbiro terkait pengembangan bidang-bidang tersebut.

Selain pelatihan, penguatan penelitian mutakhir yang berdampak signifikan disebut sebagai tugas penting untuk meningkatkan kapasitas riset dan kontribusi perguruan tinggi. Hoang Minh Son menilai riset perlu dikembangkan berbasis ilmu fundamental untuk membangun potensi jangka panjang, sembari diarahkan pada penyelesaian persoalan-persoalan utama yang muncul dari kebutuhan praktis di ibu kota, daerah, dan tingkat nasional.

Sejumlah prioritas yang disorot meliputi penanggulangan perubahan iklim, perlindungan lingkungan, penguatan keamanan energi, serta pengembangan teknologi strategis dan teknologi inti. Menurutnya, bidang-bidang tersebut berperan penting bagi pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas sains dan teknologi nasional.

Hoang Minh Son juga menekankan perlunya penyempurnaan ekosistem inovasi di perguruan tinggi sebagai salah satu tugas utama. Upaya ini ditujukan untuk menghubungkan pelatihan, penelitian, dan penerapan secara lebih erat, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta efektivitas kegiatan sains dan teknologi, inovasi, dan transformasi digital.

Dalam mendorong perguruan tinggi menuju model universitas berorientasi riset, ia menilai dibutuhkan mekanisme khusus untuk menarik talenta, ilmuwan, dan dosen unggul, termasuk para ahli yang saat ini bekerja di luar negeri. Salah satu syarat utama yang ia sebutkan adalah mekanisme yang cukup fleksibel agar perguruan tinggi—terutama universitas negeri—memiliki otonomi dan inisiatif lebih besar dalam menggunakan pendanaan dari sains dan teknologi maupun tugas lainnya, sehingga tercipta kondisi untuk menarik dan mengembangkan tenaga kerja berkualitas tinggi.

Selain itu, ia menyoroti kebutuhan mekanisme untuk mempercepat penyederhanaan prosedur investasi dan pembangunan, serta peningkatan infrastruktur pelatihan dan penelitian. Ia menilai penyelesaian dekrit pemerintah dan surat edaran panduan penting untuk mempersingkat prosedur dan memudahkan pelaksanaan tugas secara cepat, tepat waktu, dan efektif. Ia menekankan langkah-langkah yang diperlukan perlu dilakukan segera untuk memastikan kemajuan dan efektivitas di lapangan.

Di sisi lain, untuk memastikan kebijakan dan resolusi berjalan efektif, perguruan tinggi didorong proaktif menerapkan solusi inovatif dalam pelatihan dan manajemen. Hoang Minh Son menyampaikan bahwa implementasi kebijakan di bidang pendidikan tidak dapat menunggu hingga seluruh sistem sepenuhnya memahami setiap konten sebelum mulai diterapkan, melainkan perlu dijalankan bersamaan dengan proses pemahaman dan penyempurnaan mekanisme.

Ia menekankan perlunya keterlibatan langsung setiap lembaga pendidikan dan anggota fakultas dalam proses inovasi. Langkah-langkah yang disebut dapat segera dilakukan antara lain percepatan transformasi digital di sekolah, integrasi kecerdasan buatan dalam kegiatan pengajaran dan pembelajaran, serta pembaruan kurikulum, konten, dan metode pengajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Ia juga menilai keterlibatan kementerian, departemen, dan pemerintah daerah penting untuk memastikan tersedianya kondisi yang mendukung pelaksanaan reformasi pendidikan secara terkoordinasi dan efektif. Hoang Minh Son turut menyoroti keterbatasan yang masih terjadi, yakni kurangnya fasilitas memadai untuk pengajaran, pembelajaran, dan penelitian di banyak tempat. Karena itu, penyediaan ruang kelas, laboratorium, dan peralatan pengajaran yang cukup—mulai dari prasekolah hingga sekolah menengah atas dan universitas—dipandang sebagai prioritas untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan.