Posisi Indonesia dalam peta publikasi dan inovasi global dinilai masih menghadapi tantangan besar. Meski capaian publikasi ilmiah terus meningkat, kontribusi Indonesia disebut baru menonjol di tingkat Asia Tenggara dan belum mampu menembus dominasi global. Kondisi ini menjadi perhatian kalangan akademisi, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang mendorong penguatan ekosistem riset secara menyeluruh.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY, Dr. Med. dr. Supriyatiningsih, Sp.OG., M.Kes., dalam workshop bertajuk “Membangun Budaya Penelitian Inovatif” yang digelar secara daring pada Jumat (12/9). Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar jumlah publikasi, tetapi juga perlu memastikan riset memberi dampak nyata bagi masyarakat, industri, hingga kebijakan publik.
“Kalau bicara posisi publikasi, di ASEAN kita cukup terlihat. Namun ketika dibandingkan secara global, Indonesia masih berjalan pelan. Ini menjadi keprihatinan bersama, khususnya bagi perguruan tinggi yang ingin masuk jajaran 500 besar dunia,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan ekosistem riset tidak hanya berkaitan dengan penambahan fasilitas seperti laboratorium, melainkan juga pembentukan budaya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara. Ia menyebut UMY telah menjalin kemitraan dengan National University of Singapore (NUS) untuk pengembangan riset di bidang pendidikan dan teknologi.
Ia juga menilai riset yang kuat membutuhkan sinergi antarpihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, hingga industri. “Riset yang kuat harus ditopang kolaborasi. Tidak boleh berjalan sendiri. Harus ada sinergi antarperguruan tinggi, pemerintah, dan industri. Negara lain sudah bergerak cepat ke arah itu,” katanya.
dr. Supriyatiningsih mencontohkan, sejumlah konsorsium riset di rumah sakit besar di Indonesia mulai mengembangkan penelitian nano dan stem cell. Namun, ia menyoroti masih banyak laboratorium kampus yang terkendala akreditasi dan pendanaan.
Dari sisi pembiayaan, ia menilai pendanaan riset masih sangat bergantung pada sumber internal maupun skema pemerintah. Di lapangan, proses administrasi yang rumit serta realisasi anggaran yang lambat kerap membuat penelitian tersendat. “Banyak dosen sudah berusaha mengajukan proposal, tetapi mekanismenya berbelit. Bahkan ketika sudah berjalan, laporan pertanggungjawaban pun menyulitkan. Kondisi ini membuat motivasi riset tidak selalu tumbuh kuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, budaya riset di kampus juga belum sepenuhnya terbentuk. Riset masih sering dipahami sebagai kewajiban akademik, bukan strategi untuk membangun daya saing bangsa. Padahal, ekosistem riset yang kokoh dapat mengarahkan hasil penelitian tidak hanya untuk publikasi jurnal, tetapi juga menghasilkan paten dan inovasi yang siap diadopsi industri.
Untuk memperkuat riset, UMY mengembangkan sejumlah strategi, di antaranya membentuk International Research Network (IRN), mendorong dosen dan peneliti terlibat dalam research field internasional, serta menghadirkan visiting professor dan visiting researcher dari berbagai negara.
UMY juga menargetkan peningkatan kualitas laboratorium agar terakreditasi ISO. Menurutnya, standar internasional diperlukan agar hasil riset diakui secara global dan dapat dimanfaatkan industri. “Kalau kita ingin riset dipakai industri, laboratorium kita juga harus memenuhi standar internasional. Ini menjadi target kami agar hasil penelitian tidak berhenti hanya pada publikasi, tetapi benar-benar bisa diimplementasikan,” jelasnya.
Pada tahun ini, UMY menargetkan puluhan paten baru dari riset dosen dan mahasiswa. Beberapa hasil penelitian disebut mulai dimanfaatkan mitra Muhammadiyah di bidang kesehatan dan pendidikan.
“Kalau riset hanya berhenti di publikasi, dampaknya tidak akan terasa luas. Kita perlu mencontoh negara lain yang menekankan hilirisasi hasil penelitian. Perguruan tinggi harus berani mendorong riset sampai tahap implementasi,” pungkasnya.