Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Sosialisasi Program Riset Strategis BRIN 2026–2030 dengan menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Kegiatan berlangsung di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, Minggu (1/3/2026).
Forum ini disebut menjadi momentum penguatan sinergi riset antara UMS dan BRIN, sekaligus mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian berbasis roadmap nasional.
Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BRIN serta jajaran pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang menghadiri kegiatan tersebut. Sejumlah pimpinan yang disebut hadir antara lain Rektor UMPKU beserta tim riset kolaborasi, Rektor UMMAT dan tim kolaborasi riset, Rektor UMUKA dan tim riset kolaborasi, Rektor UNISA Solo beserta tim, serta Rektor UMKLA bersama tim kolaborasi riset.
Dalam sambutannya, Harun mengajak peserta mensyukuri pertemuan ilmiah itu sebagai bagian dari “Tadarus Riset”, istilah yang menggambarkan semangat kolektif membangun budaya riset yang berkelanjutan.
Ia menyebut kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari audiensi bersama Diktilitbang PP Muhammadiyah di kantor BRIN pada 5 Januari, yang membahas pentingnya sinergi BRIN dengan PTMA di Indonesia.
Harun juga memaparkan rekam jejak pengembangan riset di UMS. Menurutnya, sejak awal berdiri UMS memprioritaskan pengembangan riset. Pada 1995, UMS disebut menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang berhasil memperoleh dana riset APBN melalui skema riset dosen pemula.
UMS juga tercatat sebagai PTS yang memperoleh alokasi beasiswa APBN. Terbaru, UMS disebut menjadi motor program RISPRO-LPDP berkemajuan dengan dana Rp10 miliar dan pada tahun berikutnya akan ditambah Rp10 miliar sehingga total pendanaan menjadi Rp20 miliar.
“Dalam program tersebut, UMS memenangi enam judul riset. Jadi memang UMS ini meritokrasi risetnya sudah jalan. Dari BRIN sendiri saat ini UMS memperoleh lima judul. Kami berharap tahun depan bisa meningkat hingga dua kali lipat,” kata Harun.
Ia mendorong pembentukan riset unggulan yang berfokus pada pengurangan impor dan penguatan kebutuhan pokok nasional, seperti pangan, energi, dan industri farmasi.
Sementara itu, Wakil Rektor V Bidang Riset, Inovasi, Reputasi, dan Kemitraan UMS, Prof. Ir. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D. menjelaskan UMS mengelola riset berdasarkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). Ia menyebut UMS memiliki tiga klaster pengelolaan riset: TKT 1–3 untuk riset dasar, TKT 4–6 untuk pengembangan, serta TKT 7–9 untuk hilirisasi dan komersialisasi.
Supriyono menuturkan sejumlah produk UMS telah mencapai TKT 7–9 dan berbasis pasar, seperti produk farmasi dan kesehatan, serta aplikasi komunikasi untuk biro umrah yang telah digunakan oleh beberapa lembaga dan menghasilkan pendapatan universitas.
“Saat ini terdapat sekitar 30 riset di level TKT 4–6, dan 10 di antaranya sudah mendekati tahap hilirisasi. Kami akan memperkuat inkubasi dan kolaborasi agar semakin banyak produk riset yang berdampak,” ujarnya.
Dalam paparannya, Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya roadmap riset nasional sebagai acuan bagi dosen dan mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Ia menegaskan riset perlu berorientasi pada dampak dan menjawab persoalan masyarakat serta industri.
“Riset harus berdampak. Harus menjadi jawaban atas persoalan masyarakat dan industri. Karena kemajuan bangsa ditentukan oleh inovasi dan jumlah peneliti yang terlibat,” kata Arif.
Arif juga menyampaikan apresiasi atas langkah UMS dalam membangun identitas sebagai research university berbasis swasta. “Saya bangga dengan komitmen UMS dalam membangun ekosistem riset. Semoga semakin maju, semakin sukses, dan semakin banyak karya yang dihilirkan,” tuturnya.