Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan inovasi kesehatan digital berupa aplikasi deteksi dini anemia mandiri yang memanfaatkan kamera ponsel dan kecerdasan buatan (AI). Melalui aplikasi ini, pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) ditujukan agar dapat dilakukan lebih praktis tanpa prosedur pengambilan darah.
Inovator utama sekaligus Dekan Vokasi UMM, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., menjelaskan aplikasi tersebut dirancang sebagai solusi bagi masyarakat yang kerap menunda pemeriksaan kesehatan karena menganggap prosedur klinis tidak nyaman. Menurutnya, pemanfaatan teknologi computer vision memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara lebih inklusif dan dari rumah.
“Banyak orang malas ke faskes karena prosedur ambil darah. Padahal deteksi dini itu krusial. Saya ingin menghadirkan solusi agar masyarakat lebih sadar kesehatan melalui perangkat yang mereka genggam setiap hari,” kata Prof. Lailis saat dikonfirmasi, Selasa (14/4).
Pengembangan aplikasi ini dilakukan bersama tim lintas disiplin yang melibatkan dosen dan mahasiswa, antara lain La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T., dan Zulfatman, Ph.D. Tim tersebut membangun sistem yang membaca citra konjungtiva atau selaput lendir mata sebagai indikator kadar Hb.
Secara teknis, pengguna diminta memotret bagian mata melalui kamera ponsel. Gambar kemudian diproses oleh AI yang telah dibekali basis data khusus untuk membaca pola warna dan tingkat kecerahan. Dari proses itu, sistem memberikan estimasi nilai hemoglobin secara real-time.
Prof. Lailis menekankan aplikasi ini bukan sekadar pemrosesan gambar biasa, melainkan sistem yang menerjemahkan data visual menjadi informasi medis. Ia menyebut dibutuhkan pemodelan yang presisi agar hasilnya tetap akurat untuk berbagai kondisi pengguna.
Riset ini merupakan pengembangan dari studi doktoralnya yang berfokus pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Hingga saat ini, tingkat akurasi aplikasi dilaporkan mencapai 80 persen. Karena berbasis machine learning, akurasi disebut berpotensi meningkat seiring bertambahnya keragaman data yang diproses.
Ke depan, aplikasi ini diproyeksikan dapat digunakan sebagai alat skrining harian, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil yang memerlukan pemantauan kadar Hb secara rutin. Tim pengembang menyatakan akan terus menyempurnakan sistem agar lebih presisi untuk penggunaan yang lebih luas.