Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerap mempertimbangkan ulang model bisnis yang membutuhkan investasi awal besar. Selain memerlukan waktu lebih lama untuk balik modal, jenis usaha ini juga menuntut biaya operasional yang harus ditanggung sebelum bisnis benar-benar berjalan stabil.
Situasi tersebut mendorong sebagian pelaku usaha mencari model bisnis dengan perputaran arus kas harian. Dengan pendapatan yang dapat diperoleh lebih rutin, arus kas usaha dinilai bisa tetap bergerak tanpa menunggu periode penjualan yang panjang.
Dalam konteks ini, layanan transportasi online menjadi salah satu sektor yang mulai dilirik. Permintaannya disebut relatif stabil, dan pelaku usaha di daerah dapat menjalankan layanan transportasi tanpa harus membangun sistem teknologi dari awal, asalkan bermitra dengan platform yang sudah memiliki sistem siap pakai.
Tantangan membangun aplikasi transportasi online sendiri
Meski terlihat sederhana di layar ponsel, membangun layanan transportasi online dari nol tidak mudah. Di balik sistem pemesanan perjalanan terdapat infrastruktur teknologi dan operasional yang kompleks.
Pengembangan aplikasi membutuhkan investasi yang tidak kecil karena harus menangani berbagai fungsi, seperti pemesanan perjalanan, perhitungan tarif, pelacakan lokasi secara real time, hingga sistem pembayaran serta keamanan transaksi. Di sisi operasional, layanan juga memerlukan jaringan pengemudi yang cukup luas agar permintaan perjalanan dapat terpenuhi dengan cepat. Tanpa basis pengguna dan mitra yang memadai, layanan transportasi digital dinilai sulit berkembang.
Skema kemitraan Maxim Business
Salah satu opsi yang dipilih sebagian pelaku usaha adalah bermitra dengan platform yang telah memiliki sistem. Maxim Indonesia menawarkan program kemitraan bernama Maxim Business, yang memungkinkan mitra menjalankan layanan transportasi online di kota masing-masing dengan memanfaatkan sistem aplikasi yang telah dikembangkan Maxim.
Program ini disebut telah berjalan sejak 2021. Hingga awal 2026, layanan Maxim tersedia di lebih dari 400 kota di Indonesia, dengan lebih dari 280 kota di antaranya dijalankan melalui program Maxim Business bersama mitra lokal.
Dalam skema tersebut, mitra tidak perlu membangun aplikasi sendiri maupun mengembangkan sistem teknologi dari awal karena komponen utama—mulai dari aplikasi pemesanan perjalanan hingga dukungan operasional—telah disediakan. Modal awal program ini disebut mulai sekitar Rp10 juta.
Simulasi sederhana perputaran pendapatan
Untuk menggambarkan potensi perputaran pendapatan, disajikan simulasi ilustratif yang hasilnya dapat berbeda tergantung wilayah, jumlah pengemudi aktif, dan tingkat permintaan.
Dalam contoh simulasi, sebuah layanan di kota kecil memiliki 20 pengemudi aktif yang beroperasi setiap hari. Jika rata-rata setiap pengemudi melayani 10 perjalanan per hari, total perjalanan mencapai sekitar 200 perjalanan per hari. Dengan rata-rata tarif Rp12.000 per perjalanan, nilai transaksi harian diperkirakan sekitar Rp2.400.000.
Jika platform memperoleh komisi sekitar 10% dari transaksi, potensi pendapatan kotor diperkirakan sekitar Rp240.000 per hari. Dalam 30 hari operasional, potensi pendapatan kotor menjadi sekitar Rp7.200.000 per bulan. Simulasi ini menekankan karakter arus kas yang bergerak relatif cepat, meski hasil riil dapat berbeda bergantung kondisi pasar setempat.
Peluang di kota kecil
Bagi pelaku usaha lokal, kota yang belum memiliki layanan Maxim dinilai masih membuka ruang peluang kemitraan. Menjadi pelaku awal di pasar lokal dapat memberi keuntungan strategis, seperti kesempatan membangun basis pelanggan lebih cepat dan menyesuaikan pertumbuhan layanan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Maxim juga menilai kota kecil sebagai wilayah potensial, terutama ketika penetrasi layanan digital belum merata. Kehadiran transportasi online dipandang dapat menjadi solusi mobilitas sekaligus membuka peluang usaha baru di daerah.
Salah satu mitra Maxim Business di Kotabumi, Rahmawati, menyebut perkembangan layanan di wilayahnya cukup dinamis sejak mulai dijalankan pada 2024. “Sebagai pioneer ojek online sejak Januari 2024, Maxim Kotabumi sukses menggerakkan ekonomi dan membangun sinergi kuat dengan pemerintah setempat. Di tahun kedua ini, kemudahan bisnis yang ditawarkan terbukti sangat efektif dengan balik modal hanya dalam satu tahun. Ini adalah peluang investasi terbaik bagi pebisnis yang ingin memajukan kampung halaman sekaligus meraih profit nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Mardianto, pebisnis sekaligus Head of Subdivision Maxim Sangatta, menilai program ini menarik karena kebutuhan pasar yang terus tumbuh dan modal awal yang relatif terjangkau. “Sejak Agustus 2022, Maxim Sangatta sukses menjadi pionir transportasi online dengan progres layanan yang terus meningkat. Investasinya relatif terjangkau dengan estimasi balik modal dalam 3-4 bulan saja. Peluang bisnis ini sangat direkomendasikan karena respon luar biasa masyarakat dan beban modal yang relatif ringan,” tuturnya.
Persyaratan kemitraan
Dalam informasi yang disertakan, disebutkan bahwa wilayah yang belum memiliki layanan Maxim masih terbuka untuk kemitraan. Sejumlah persyaratan yang perlu dipenuhi antara lain modal awal mulai Rp10.000.000, menyiapkan data diri seperti KTP, KK, dan SKCK, memiliki PT yang sudah terdaftar (minimal PT perseorangan), serta memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP.
Setelah mendaftar, mitra disebut akan memperoleh akses aplikasi untuk menjalankan bisnis di kota setempat, serta pendampingan dari tim spesialis Maxim dalam mengelola operasional, termasuk strategi pemasaran. Materi periklanan juga disebut telah disiapkan, meliputi materi cetak (spanduk, flyer, poster), materi digital (video, foto, konten grafis), serta materi publikasi seperti artikel, advertorial, dan skrip iklan radio.