BERITA TERKINI
UGM Kembangkan Aplikasi Westa untuk Kenali Jenis Sampah lewat Foto dan Hitung Dampak Karbon

UGM Kembangkan Aplikasi Westa untuk Kenali Jenis Sampah lewat Foto dan Hitung Dampak Karbon

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Westa yang dapat mengidentifikasi jenis sampah melalui foto dari ponsel. Aplikasi ini dirancang untuk membantu proses pemilahan sampah sekaligus menghitung dampak lingkungannya.

Dosen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Luluk Lusiantoro, mengatakan pengguna cukup memotret sampah menggunakan kamera smartphone. Melalui teknologi computer vision, sistem kemudian mengenali jenis sampah secara otomatis dan mampu memperkirakan beratnya. Data tersebut digunakan untuk menghitung estimasi emisi karbon yang dihasilkan dari limbah.

Menurut Luluk, pengembangan Westa berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Indonesia yang dinilai masih belum optimal. Selama ini, identifikasi jenis sampah masih banyak dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul atau pengepul, pekerjaan yang disebutnya tidak mudah dan tidak banyak diminati.

Selain mengenali jenis sampah, Westa juga dirancang untuk mengidentifikasi merek produk yang menjadi sumber limbah. Data ini diharapkan membantu menelusuri produsen yang produknya berkontribusi terhadap timbulan sampah. Luluk menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) dalam ekonomi sirkular, yang menekankan tanggung jawab produsen hingga tahap pascakonsumsi.

Aplikasi ini juga dilengkapi fitur geotagging untuk mencatat lokasi ditemukannya sampah. Dengan begitu, data yang terkumpul tidak hanya menunjukkan jenis limbah, tetapi juga dapat memperlihatkan pola sebarannya di berbagai wilayah.

Dalam menghitung estimasi emisi karbon, tim peneliti menggunakan emission factor dari Environmental Protection Agency Amerika Serikat sebagai acuan. Data yang dihimpun melalui Westa diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih efektif.

“Analisis data tersebut juga dapat membantu mengidentifikasi produk yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar sehingga mendorong produsen lebih bertanggung jawab terhadap dampak lingkungannya,” kata Luluk.

Ke depan, pengembangan Westa disebut tidak hanya ditujukan bagi organisasi atau institusi, tetapi juga masyarakat umum. Pengguna dapat memotret sampah yang dihasilkan setiap hari dan melihat profil jenis sampah secara berkala melalui dasbor aplikasi. Luluk berharap, dengan mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan, pengguna dapat mengenali pola konsumsi berlebih dan mulai mengurangi konsumsi yang tidak perlu.

Luluk menambahkan, Westa ditargetkan berkembang menjadi waste circular ecosystem, yakni ekosistem digital yang menyediakan data komprehensif mengenai profil sampah di Indonesia. “Sistem ini dirancang sebagai one stop waste circular ecosystem yang memuat data jenis dan jumlah sampah, tingkat daur ulang, hingga dampak karbonnya untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan,” ujar dia.