BERITA TERKINI
UB dan PT BKI Teken MoU, Perluas Kolaborasi Riset dan Inovasi Teknologi Maritim

UB dan PT BKI Teken MoU, Perluas Kolaborasi Riset dan Inovasi Teknologi Maritim

Universitas Brawijaya (UB) memperkuat sinergi dengan dunia industri melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau PT BKI. Penandatanganan berlangsung pada Kamis (28/8/2025) di lantai 7 Gedung Rektorat UB, Malang.

PT BKI merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang klasifikasi kapal, inspeksi, sertifikasi, serta pengujian untuk sektor maritim, minyak dan gas, serta lingkungan. Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen UB dalam membangun kolaborasi strategis dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Fokus kerja sama: teknologi maritim hingga isu karbon

Wakil Rektor UB Bidang Inovasi, Prof. Unti Ludigdo, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut merupakan langkah konkret untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi tepat guna. Ia menilai UB memiliki potensi besar, terutama dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) serta Fakultas Teknik, untuk berkolaborasi dalam riset dan pengembangan teknologi maritim.

Menurut Unti, PT BKI membuka peluang kerja sama dalam pengembangan teknologi perkapalan, carbon trade, hingga pengukuran karbon. Ia menekankan agar kolaborasi tidak berhenti pada penandatanganan MoU, melainkan ditindaklanjuti dengan aksi nyata dan perjanjian kerja sama (PKS) yang lebih spesifik.

Peluang magang dan PKL untuk mahasiswa

Selain riset dan inovasi, PT BKI juga menawarkan program magang dan praktik kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa UB. Program ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai industri klasifikasi dan sertifikasi kapal, sekaligus menjadi sumber inspirasi riset yang selaras dengan kebutuhan industri.

BKI: butuh dukungan akademisi untuk menjawab tantangan

Sekretaris Perusahaan PT BKI, Muhammad Sodik, menyambut positif kerja sama tersebut. Ia mengatakan BKI selama ini telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, terutama dalam sektor maritim. Namun, UB dinilai dapat berperan penting dalam mendukung kegiatan riset dan pengembangan teknologi di BKI.

Sodik menjelaskan, BKI kerap menerima berbagai tantangan dari pemerintah maupun pemangku kepentingan, sehingga membutuhkan dukungan akademisi untuk membantu penyelesaiannya.

Kolaborasi awal yang disiapkan

Sejumlah bentuk kolaborasi awal yang disebut akan segera dijalankan antara UB dan BKI meliputi:

  • Kerja sama pemetaan dasar bersama Badan Informasi Geospasial (BIG).
  • Penanganan isu Over Dimension Over Load (ODOL) dari darat hingga penyeberangan.
  • Pengelolaan sampah sebagai sumber energi.

Gagasan standarisasi kapal nelayan

Dalam diskusi, juga muncul ide mengenai pentingnya standarisasi kapal-kapal nelayan yang dinilai belum memiliki regulasi keselamatan yang memadai. Sodik menyoroti bahwa kapal-kapal kecil jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan kapal niaga, namun masih banyak yang menggunakan standar tradisional berbasis adat setempat. Ia menilai diperlukan kerangka kerja bersama agar standarisasi dapat menjamin keselamatan nelayan sekaligus meningkatkan daya saing industri maritim nasional.

UB: butuh kasus riil untuk riset strategis

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, mengapresiasi kerja sama ini dan menyebutnya relevan dengan arah riset strategis UB. Ia menyampaikan UB memiliki anggaran dan peneliti, namun membutuhkan kasus riil sebagai titik temu riset. Permintaan riset dari pemerintah dan pemangku kepentingan yang diterima BKI dinilai dapat menjadi ruang kolaborasi yang ideal.

Melalui penandatanganan MoU ini, UB dan PT BKI sepakat memperluas kerja sama di bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan memberi manfaat bagi kedua institusi sekaligus mendukung kemajuan industri maritim nasional dan pembangunan berkelanjutan.