BERITA TERKINI
Tren Konsumsi Bergeser, Industri Makanan-Minuman Diproyeksi Tumbuh hingga 6,1% pada 2025

Tren Konsumsi Bergeser, Industri Makanan-Minuman Diproyeksi Tumbuh hingga 6,1% pada 2025

Industri makanan dan minuman (mamin) diperkirakan masih mencatat pertumbuhan pada 2025 di tengah pergeseran tren konsumsi. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memperkirakan industri ini dapat tumbuh di kisaran 5,9% hingga 6,1% pada tahun fiskal 2025.

Proyeksi tersebut disampaikan analis BRIDS, Christy Halim dan Sabela Amalina, berdasarkan riset terbaru serta hasil diskusi kelompok BRIDS bersama Ketua Umum Gabungan Industri Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, untuk memperoleh gambaran terkini mengenai perilaku konsumen di Indonesia.

Dalam risetnya, Christy dan Sabela mencatat pemulihan sejumlah pelaku industri food and beverage (F&B) setelah musim Lebaran berjalan lebih lambat dari perkiraan, termasuk dari sisi imbal hasil saham. Permintaan sempat meningkat pada Juli 2025, namun kembali menurun pada Agustus 2025.

Meski demikian, beberapa pelaku industri disebut telah mulai berkoordinasi dengan perdagangan modern untuk persiapan stok Lebaran tahun depan. Rencana pengiriman disebut akan dimulai pada November 2025, yang dinilai berpotensi mendukung pertumbuhan pada kuartal IV 2025.

Gapmmi tetap menyampaikan optimisme terhadap industri mamin, mengingat porsi pengeluaran makanan per kapita yang besar baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Namun, daya beli yang melemah saat ini dinilai turut memperlambat laju pertumbuhan industri.

BRIDS juga menyoroti adanya pergeseran tren konsumsi dari makan di luar dan makanan siap saji menuju konsumsi makanan rumahan. Porsi pengeluaran untuk makanan siap saji tercatat menurun dari 32,9% pada 2019 menjadi 29,7% pada 2024. BRIDS menilai perubahan ini mencerminkan tren konsumsi yang melemah.

Seiring pergeseran tersebut, sejumlah kategori bahan makanan pokok dinilai tetap menunjukkan kinerja kuat, seperti makanan beku, bumbu dapur, air mineral, dan mi instan, dengan pertumbuhan yang disebut mencapai dua digit. Sementara itu, pengeluaran untuk rokok dinilai relatif stabil, sedikit meningkat dari 11,3% pada 2019 menjadi 11,6% pada 2024.

Terkait kebijakan, BRIDS menilai dampak langsung program stimulus “8+4” terhadap konsumsi relatif terbatas. Dampak yang lebih langsung terhadap konsumsi diperkirakan berasal dari program uang tunai untuk pekerjaan dan bantuan pangan. Program magang dinilai dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga secara bertahap, sementara Gapmmi memandang Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai langkah krusial dan efektif untuk merangsang konsumsi dengan cepat.

Adapun program makan bergizi gratis (MBG) disebut sejauh ini memberikan dampak yang cukup positif bagi pelaku industri makanan beku, khususnya nugget, serta bumbu, karena telah digunakan dan bersumber dari pelaku industri. Untuk komoditas susu, riset BRIDS mencatat adanya kemajuan melalui kesepakatan harga beli lebih dari Rp2.000 per bungkus.