Gelombang transformasi digital mengubah lanskap bisnis dan menghadirkan peluang usaha baru, terutama di sektor ekonomi kreatif. Perkembangan ini terlihat dari meluasnya bidang seperti e-commerce, digital marketing, pengembangan aplikasi, hingga industri konten kreatif, yang tumbuh seiring meningkatnya adopsi teknologi di Indonesia dan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Riset e-Conomy SEA oleh Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat ekonomi digital Asia Tenggara terus menunjukkan pertumbuhan, dengan Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar. Nilai ekonomi digital nasional juga diproyeksikan mencapai ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan.
Menanggapi tren tersebut, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menilai peluang bisnis digital kian terbuka, khususnya bagi mahasiswa. “Era digital memberikan kesempatan besar bagi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur sejak dini. Dengan memanfaatkan teknologi, mahasiswa dapat menciptakan bisnis yang kreatif dan scalable,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Senin (6/4).
Bryan menambahkan, keberanian mencoba, kepekaan membaca peluang, serta kemampuan digital menjadi faktor penting untuk bersaing di tengah perubahan yang cepat. Ia juga menekankan peran pendidikan dalam membentuk pola pikir kewirausahaan. “Kampus harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide, berkolaborasi, dan menciptakan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Bryan, Universitas Nusa Mandiri terus memperkuat perannya dalam mendorong lahirnya entrepreneur muda melalui kurikulum berbasis industri, pembelajaran berbasis praktik, serta dukungan ekosistem digital. Upaya itu, lanjutnya, diwujudkan melalui program pengembangan startup mahasiswa, pelatihan digital skill, hingga kolaborasi dengan industri, sehingga kampus dapat berfungsi sebagai inkubator ide bisnis di era ekonomi digital.
Tren meningkatnya startup yang digagas generasi muda turut memperkuat fenomena ini. Keberadaan platform digital seperti media sosial dan marketplace juga memudahkan mahasiswa memasarkan produk tanpa harus memiliki toko fisik.
Bryan mengingatkan bahwa menjadi entrepreneur bukan semata memulai bisnis, tetapi juga membangun karakter yang tangguh dan kreatif. Mahasiswa yang mampu memadukan teknologi, kreativitas, dan semangat kewirausahaan dinilai akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan.