BERITA TERKINI
Tinder Uji Fitur “Chemistry” Berbasis AI untuk Perjodohan yang Lebih Personal

Tinder Uji Fitur “Chemistry” Berbasis AI untuk Perjodohan yang Lebih Personal

Tinder menyatakan tengah menguji opsi baru bernama “Chemistry” yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mempertemukan pengguna di aplikasi kencan tersebut. Meski demikian, Tinder menegaskan mekanisme inti berupa “menggeser” (swipe) untuk menunjukkan ketertarikan pada profil—yang menjadi ciri khas layanan sejak diluncurkan pada 2012—tetap dipertahankan.

Kepala eksekutif Tinder sekaligus perusahaan induknya, Match Group, Spencer Rascoff, mengatakan AI digunakan untuk menampilkan koneksi yang lebih relevan sekaligus meningkatkan aspek keamanan agar pengguna merasa lebih yakin untuk melangkah lebih jauh.

Tinder menyebut AI memungkinkan aplikasi memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kepribadian pengguna, termasuk “getaran” dan hal-hal yang dianggap paling penting. Sistem ini akan mempelajari pengguna berdasarkan informasi yang tersedia pada akun mereka.

Perusahaan juga berencana memungkinkan pengguna melengkapi proses tersebut dengan menjawab kuesioner serta memberikan akses ke arsip foto. Wakil presiden senior produk Tinder, Hillary Paine, menyatakan fitur “Chemistry” termasuk dalam rangkaian pembaruan yang ditujukan agar pengguna menghabiskan lebih sedikit waktu di aplikasi dan lebih banyak waktu untuk terhubung di kehidupan nyata.

Paine menambahkan, pembaruan yang disiapkan Tinder merupakan evolusi yang mencerminkan apa yang dicari oleh para pencari pasangan muda saat ini.

Selain “Chemistry”, Tinder menyiapkan mode musik yang memungkinkan pengguna mempertimbangkan selera musik saat menilai profil. Ada pula mode astrologi baru yang menjadikan zodiak sebagai salah satu faktor dalam pencarian.

Untuk mendorong pertemuan di dunia nyata, Tinder juga menguji acara tatap muka bagi pelanggan di kota asalnya, Los Angeles. Di sisi lain, perusahaan turut menguji sesi kencan kilat melalui video virtual, menurut Paine.

Di aspek keamanan, Tinder menyatakan menggunakan AI untuk mendeteksi pesan yang berpotensi tidak pantas dan memindai wajah guna memastikan pengguna adalah orang sungguhan. Rascoff menyebut lebih dari separuh pengguna Tinder berusia di bawah 30 tahun, sehingga pengembangan platform diarahkan untuk memenuhi kebutuhan generasi yang menginginkan pengalaman kencan yang terasa lebih autentik, minim tekanan, dan sepadan dengan waktu mereka.

Di tengah pembaruan fitur, isu kelelahan dalam berkencan daring atau dating burnout juga menjadi perhatian. DeAlto menyarankan pengguna mengambil jeda bila mulai takut membuka aplikasi kencan atau merasa prosesnya seperti pekerjaan sampingan. Tanda lain untuk berhenti sejenak adalah ketika seseorang tidak lagi bersemangat dengan prospek bertemu dan berkencan dengan orang baru.

Menurut DeAlto, meskipun berkencan dilakukan dengan tujuan jangka panjang, prosesnya seharusnya tetap menyenangkan. Ia mengingatkan agar tidak memaksakan diri berkencan ketika sedang lelah, karena hal itu bisa lebih banyak menimbulkan dampak negatif.

DeAlto juga merekomendasikan pengguna menetapkan empat karakteristik kepribadian yang benar-benar dibutuhkan dari calon pasangan, lalu berfokus hanya pada orang yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan memahami apa yang diinginkan, pengalaman menggunakan aplikasi kencan dinilai bisa terasa tidak terlalu membebani.