Tim peneliti Telkom University (Tel-U) Surabaya mengembangkan sejumlah inovasi di berbagai bidang, mulai teknologi, kesehatan, hingga pertanian berbasis kecerdasan buatan. Salah satu riset yang tengah dikembangkan adalah alat untuk mengukur daya tahan lampu LED melalui perlakuan spread spectrum, teknologi yang dirancang untuk menekan interferensi gelombang elektronik.
Peneliti LPPM Tel-U Surabaya, Muhammad Dwi Hariyanto, menjelaskan inovasi tersebut menggunakan metode modulasi gelombang sinus dan ramp. Perlakuan itu diterapkan untuk membandingkan masa pakai lampu LED, baik dengan maupun tanpa gangguan frekuensi tinggi pada komponen listrik.
“Alat ini mampu mendeteksi besaran interferensi. Fenomena tersebut sering memperpendek masa pakai perangkat elektronik di sekitar lampu,” kata Dwi pada Sabtu (7/3/2026).
Menurut Dwi, riset ini didanai hibah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui program Bima selama dua tahun. Saat ini, tim peneliti telah merampungkan fase purwarupa fungsional untuk pengujian data.
“Kita buat alat untuk mengetahui seberapa besar interferensi pada lampu LED. Tujuannya agar kita tahu masa pakai lampu tersebut,” ujarnya.
Direktur Tel-U Surabaya, Dr Mohammad Yanuar Hariyawan, menjelaskan lampu LED dapat menghasilkan interferensi dari switching frekuensi tinggi. Gangguan ini dinilai berpotensi memengaruhi peralatan elektronik lain yang berada dalam satu jaringan listrik.
Ia menambahkan, penerapan spread spectrum dilakukan dengan menyebarkan frekuensi switching agar dampaknya mengecil. “Awalnya satu titik frekuensi, kini disebar agar menyerupai noise,” kata Yanuar.
Berdasarkan data riset yang disebutkan Yanuar, penggunaan teknologi penekan interferensi tersebut berdampak pada durasi pakai lampu. Prediksi menunjukkan masa pakai dapat turun dari 10.000 jam menjadi sekitar 6.000 jam.
Selain riset terkait LED, Tel-U Surabaya juga mengembangkan sejumlah inovasi lain, antara lain robot Picobot sebagai alat bantu pemulihan pasien pasca stroke, E-meddis (dispenser obat), serta APKM (Anjungan Pemeriksaan Kesehatan Mandiri).
Di bidang pertanian, kampus tersebut mengembangkan sistem smart farming dengan penambahan booster karbon dioksida (CO2), Inovasi Smart Tani, Inovasi Smart Kandang, dan Inovasi Smart Crab. Ada pula aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk deteksi dini stunting bernama Geny StunCare yang menggunakan parameter berat dan tinggi badan untuk memberikan rekomendasi kesehatan otomatis, terutama bagi ibu dan anak.
Yanuar menyebut pendanaan riset LED mencapai Rp 117 juta dari pemerintah. Secara total, Telkom University Surabaya disebut telah menghimpun dana hibah penelitian eksternal hingga Rp 1,4 miliar untuk berbagai pengembangan teknologi.