Modus penipuan berkedok investasi kembali memakan korban. Dalam kasus ini, pelaku memancing korban untuk mengirim uang sungguhan melalui skema “mengisi ulang mata uang virtual” di sebuah aplikasi keuangan palsu yang dipromosikan lewat platform video pendek.
Korban, Ibu Trieu, adalah seorang pekerja kantoran yang terbiasa berinvestasi emas. Ia terjerat setelah berkenalan dengan orang asing secara online. Komunikasi berlangsung intens: pelaku mengirim pesan setiap hari, menanyakan kabar, dan berbagi cerita pribadi. Sekitar 20 hari setelah berinteraksi, pelaku mulai menawarkan apa yang disebutnya sebagai “peluang menghasilkan uang” yang menarik.
Pelaku kemudian memperkenalkan aplikasi bernama Juhé, yang menjanjikan keuntungan tinggi dengan risiko rendah. Untuk meyakinkan korban, Trieu diminta mencoba setoran awal 1.000 RMB (sekitar 3,9 juta VND). Ia kemudian berhasil menarik 1.111 RMB (sekitar 4,3 juta VND), sehingga tampak seolah-olah investasi tersebut memberikan keuntungan cepat.
Keberhasilan penarikan awal itu membuat Trieu semakin percaya dan terdorong meningkatkan investasinya. Pelaku lalu membujuknya untuk “memaksimalkan keuntungan” dengan cara membeli emas fisik dan mengirimkannya melalui kantor pos sesuai instruksi. Emas tersebut dijanjikan akan dikonversi menjadi saldo “virtual” di aplikasi.
Mengikuti arahan yang disebut berasal dari “staf dukungan pelanggan” di aplikasi—yang belakangan diketahui palsu—Trieu secara berturut-turut mengirim total 1.120 gram emas. Nilainya disebut melebihi 1,1 juta yuan (sekitar 4,3 miliar VND) berdasarkan harga pasar.
Di dalam aplikasi, aset atas nama Trieu ditampilkan melampaui 320.000 yuan (sekitar 1,25 miliar VND). Angka yang tampak “meroket” itu membuatnya yakin telah mengalami perubahan besar dalam waktu singkat, hingga melupakan risiko yang sebenarnya mengiringi skema tersebut.