BANDUNG — Istilah “AI Bubble” belakangan ramai dibicarakan seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). AI Bubble merujuk pada situasi ketika ekspektasi dan aliran investasi ke industri AI meningkat tajam, sementara manfaat nyata serta peluang monetisasinya dikhawatirkan belum sebanding. Jika kondisi itu tidak diiringi hasil yang jelas, gelembung tersebut berisiko pecah dan memicu dampak negatif bagi industri.
Direktur Utama Telkomsel Nugroho menilai fenomena AI Bubble berpotensi terjadi dan telah menjadi isu global. Namun, ia memandangnya sebagai bagian wajar dari siklus perkembangan teknologi.
“AI itu seperti teknologi besar sebelumnya. Ada internet bubble, startup bubble, bahkan 3G bubble. Jadi kalau sekarang muncul potensi AI Bubble, itu sesuatu yang biasa dalam perkembangan teknologi,” ujar Nugroho di sela peluncuran AI Innovation Hub di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025).
Nugroho menjelaskan, AI Bubble umumnya muncul ketika investasi tidak seimbang dengan potensi monetisasi. Karena itu, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih hati-hati dan terukur, alih-alih agresif mengejar tren atau terjebak fear of missing out (FOMO).
“Yang penting itu menjaga keseimbangan antara investasi dan monetisasi. Kalau tidak seimbang, maka risiko bubble sangat besar. Artinya, yang menjadi penentu bukan AI-nya, tetapi bagaimana perusahaan mengelola investasi dan adopsi AI secara rasional,” kata Nugroho.
Dalam langkah konkretnya, Telkomsel menyatakan tidak akan gegabah menanamkan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas. Menurut Nugroho, laju perubahan teknologi AI yang cepat membuat investasi perangkat keras terlalu dini berisiko tidak relevan dalam waktu singkat.
“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ujarnya.
Sebagai alternatif, Telkomsel menempuh pendekatan yang dinilai lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta penerapan AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).
Meski mengakui adanya risiko AI Bubble, Telkomsel menegaskan AI tetap menjadi teknologi penting. Tantangannya, menurut Nugroho, bukan memilih untuk menggunakan AI atau tidak, melainkan memastikan adopsinya dilakukan secara matang dan berkelanjutan.
“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.
Nugroho juga menyinggung tren adopsi AI di Indonesia yang dinilainya relatif lebih terukur dibanding fase teknologi baru sebelumnya. Ia menilai pengalaman pada era startup bubble membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi di tengah maraknya AI.