Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung (LPPM Unila) memperkenalkan inovasi teknologi mekanis pemecah cangkang untuk mempercepat proses perkecambahan benih kelapa sawit secara signifikan dan lebih seragam.
Inovasi ini ditujukan untuk menjawab kendala utama pembibitan kelapa sawit secara konvensional yang dapat memakan waktu hingga 60 hari. Lamanya proses tersebut dipengaruhi sifat dormansi alami pada cangkang biji yang sangat keras, sehingga menghambat masuknya air dan oksigen ke embrio.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman BPDP pada Sabtu (14/03/2026), penerapan metode mekanis pada kernel sawit mampu memangkas durasi perkecambahan menjadi 13 hari, dengan tingkat keberhasilan daya kecambah dilaporkan mencapai 100 persen.
Dalam praktik konvensional, pertumbuhan benih kerap tidak serempak dan menyulitkan manajemen pembibitan di lapangan. Cangkang biji yang tebal disebut menjadi penghalang utama, sehingga proses perkecambahan berlangsung lebih lambat dan hasilnya kurang merata.
Teknologi yang dikembangkan oleh tim peneliti Tamrin dan rekan-rekannya ini menggunakan rangkaian perangkat khusus. Urutan peralatan yang digunakan meliputi Alat I dan Alat II untuk penanganan awal biji, inkubator sebagai ruang pengkondisian lingkungan, Alat III yang disebut mampu menghasilkan kecambah biji sebesar 80 persen dalam 50 hari, Alat Sortasi I dan Alat IV untuk seleksi kualitas, serta Alat Sortasi II sebagai tahap akhir pemurnian kernel.
Melalui penggunaan alat pemecah cangkang, kernel sawit yang telah terpisah dapat segera memasuki fase perkecambahan tanpa hambatan fisik. Kondisi ini dinilai memicu pertumbuhan embrio menjadi lebih cepat dan seragam.
Perbandingan data menunjukkan bahwa tanpa perlakuan mekanis, biji sawit memerlukan waktu tunggu sekitar empat kali lebih lama. Efisiensi waktu tersebut dinilai penting untuk mendukung penyediaan bibit unggul dalam skala besar.
Penelitian yang berlangsung selama satu tahun itu menghasilkan prototipe alat pemecah cangkang biji kelapa sawit yang disebut siap diimplementasikan. Perangkat tersebut dirancang agar tidak merusak bagian dalam biji atau kernel sawit.
Selain mempercepat proses, kecambah yang dihasilkan dari proses berbasis kernel dilaporkan memiliki kualitas fisik yang lebih konsisten. Keseragaman pertumbuhan juga memudahkan petani memindahkan bibit ke area persemaian secara bersamaan tanpa jeda.
Sejumlah hasil utama yang dicatat dari penerapan teknologi ini meliputi tersedianya prototipe alat pemecah cangkang yang fungsional, pencapaian daya kecambah hingga 100 persen, pemangkasan waktu perkecambahan dari 60 hari menjadi 13 hari, serta pertumbuhan bibit yang lebih seragam sehingga memudahkan pemeliharaan rutin.
Dengan capaian tersebut, implementasi teknologi mekanis ini disebut dapat memberi kepastian produksi bagi produsen bibit sawit nasional. Keberhasilan daya kecambah 100 persen juga menunjukkan perlakuan mekanis tidak dilaporkan berdampak negatif terhadap viabilitas benih, sekaligus memperkuat sistem penyediaan input produksi dalam industri perkebunan kelapa sawit.