BERITA TERKINI
Teknologi Bio-Silika Diklaim Mampu Dongkrak Produktivitas Kelapa Sawit hingga 30 Persen

Teknologi Bio-Silika Diklaim Mampu Dongkrak Produktivitas Kelapa Sawit hingga 30 Persen

Penerapan teknologi Bio-Silika (Bio-Si) melalui pemanfaatan mikroorganisme pelarut silika dilaporkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit pada berbagai kondisi lahan perkebunan di Indonesia. Inovasi ini dikembangkan oleh tim peneliti Laksmita Prima Santi, Nurhaimi Haris, dan Djoko Mulyanto untuk mengoptimalkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro di dalam tanah.

Berdasarkan keterangan yang dilansir dari laman BPDP pada Selasa (17/03/2026), aplikasi formula Bio-Silika disebut mampu mendongkrak hasil panen hingga 30 persen. Selain itu, teknologi ini juga diklaim meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk Nitrogen Fosfor Kalium (NPK) serta pupuk mikro pada tanaman kelapa sawit.

Silika (Si) merupakan unsur kedua paling melimpah di dalam tanah, dengan konsentrasi sekitar 50 hingga 400 gram per kilogram tanah. Namun, sebagian besar silika tersebut tidak tersedia bagi tanaman. Melalui mikroorganisme pelarut silika, kelarutan Si ditingkatkan menjadi bentuk asam monosilikat (H4SiO4) yang dapat diserap lebih optimal oleh perakaran kelapa sawit untuk mendukung proses fisiologis.

Ketersediaan Si yang memadai dilaporkan berpengaruh positif terhadap ketahanan kelapa sawit dalam menghadapi cekaman abiotik maupun biotik, baik di perkebunan rakyat maupun swasta. Manfaat yang disebutkan dari penggunaan teknologi Bio-Si dan produk turunannya, seperti BioSilAc, antara lain meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan ekstrem, memperkuat sistem imun tanaman dari serangan organisme pengganggu tumbuhan, serta mengurangi tingkat toksisitas logam berat pada tanah mineral maupun lahan marginal.

Uji coba skala lapangan telah dilakukan pada areal seluas 180 hektar di Kalimantan Tengah untuk memantau performa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM) melalui pengamatan data fisiologis dan vegetatif. Hasil penelitian menunjukkan deposisi silika pada jaringan tanaman membentuk lapisan pelindung fisik yang dinilai dapat menghambat penetrasi serangga hama serta perkembangan patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang.

Selain itu, penerapan Bio-Silika juga disebut mendukung peningkatan aktivitas fotosintesis sehingga metabolisme tanaman lebih lancar. Dampaknya dikaitkan dengan peningkatan berat janjang rata-rata serta total produksi tandan buah segar.

Di lapangan, aplikasi BioSilAc dapat dilakukan melalui dua metode, yakni pocket placement untuk pupuk berbentuk padat dan metode penyemprotan menggunakan larutan Bio-Silika berkonsentrasi 100 persen. Dosis yang disarankan untuk hasil maksimal adalah empat liter Bio-Si per hektar per tahun, atau dikombinasikan dengan kompos sebanyak 500 kilogram per pohon untuk hasil optimal.

Pengembangan riset ini mencakup eksplorasi bahan baku, spesifikasi uji mutu, hingga desain produksi skala besar yang dilakukan oleh Indonesian Research Institute for Biotechnology and Bioindustry (IRIBB). Integrasi silika ke dalam program pemupukan rutin dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas produksi nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan kualitas kesuburan lahan.

Teknologi Bio-Silika disebut menunjukkan peran inovasi bioteknologi lokal dalam menawarkan solusi praktis terhadap persoalan agronomis, sekaligus mendukung keberlanjutan sektor kelapa sawit sebagai komoditas ekspor Indonesia.