BERITA TERKINI
Tabligh Akbar di Masjid Pusdai Ajak Manfaatkan Lebaran Tanpa Gadget untuk Pererat Keluarga

Tabligh Akbar di Masjid Pusdai Ajak Manfaatkan Lebaran Tanpa Gadget untuk Pererat Keluarga

Momentum Lebaran diharapkan menjadi waktu untuk mempererat kebersamaan keluarga tanpa gangguan gawai. Ajakan tersebut disampaikan Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kementerian Komunikasi dan Digital, Dimas Aditya Nugraha, dalam kegiatan Tabligh Akbar yang digelar bersama Pikiran Rakyat Media Network di Masjid Pusdai, Minggu, 15 Maret 2026.

Dimas menilai Lebaran semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan keluarga melalui interaksi langsung, bukan justru sibuk dengan ponsel. Ia menekankan pentingnya menghadirkan suasana bercengkerama bersama keluarga tanpa memegang gawai.

Menurutnya, penggunaan gawai yang berlebihan dapat membuat seseorang hadir secara fisik di tengah keluarga, tetapi pikirannya teralihkan ke dunia digital. Kondisi ini, kata Dimas, berpotensi mengurangi kualitas kebersamaan yang seharusnya terbangun pada momen Lebaran.

Dalam kesempatan yang sama, Dimas juga menyinggung kebijakan pemerintah melalui PP Tunas yang mengatur pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan tersebut disebut bertujuan menjaga kesehatan mental dan perkembangan anak di era digital.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sekitar 33% anak di Indonesia sudah menggunakan ponsel pada usia dini. Selain itu, sekitar 60% remaja rentan mengalami distraksi akibat penggunaan gawai yang tidak terkontrol.

Karena itu, Dimas mendorong orang tua tidak hanya memberikan perangkat digital kepada anak, tetapi juga mengawasi serta mengarahkan penggunaannya. Ia menegaskan, pemberian ponsel untuk kebutuhan belajar dimungkinkan, namun tetap memerlukan pendampingan agar penggunaan perangkat sesuai tujuan.

Tabligh Akbar bertema “Sakinah di Era Digital” itu dihadiri ratusan jemaah. Kegiatan berlangsung sejak siang hingga malam hari, menghadirkan rangkaian kajian, diskusi, serta berbagai aktivitas edukatif.

Empat dai muda menyampaikan materi dari beragam sudut pandang mengenai ketenangan hati dan keharmonisan keluarga di tengah perkembangan teknologi. Risyad Bay membuka kajian dengan tema “Hati yang Cemas” yang membahas kegelisahan manusia di era modern, dilanjutkan Abu Takeru dengan topik “Hati yang Mencari Kepastian”.

Kajian kemudian diteruskan oleh Ghaida Tsuraya yang membawakan tema “Hati yang Menguatkan”, serta Setia Furqon dengan materi “Keluarga Lini Masa” yang menyoroti dinamika keluarga di tengah perkembangan media sosial dan teknologi digital.