BERITA TERKINI
Survei HVNCLC 2026: Persaingan Produk Vietnam Bergeser ke Kualitas, Kepercayaan, dan Pemanfaatan Data Konsumen

Survei HVNCLC 2026: Persaingan Produk Vietnam Bergeser ke Kualitas, Kepercayaan, dan Pemanfaatan Data Konsumen

Pada 24 Maret, Asosiasi Bisnis Barang Berkualitas Tinggi Vietnam (HVNCLC) mengumumkan hasil survei dan seleksi program Barang Berkualitas Tinggi Vietnam untuk tahun 2026, sekaligus memaparkan laporan mengenai lanskap konsumsi hijau 2025.

Ketua Komite Survei Konsumen Asosiasi, Nguyen Van Phuong, menjelaskan bahwa program Barang Berkualitas Tinggi Vietnam dimulai pada 1996 dengan metode sederhana, yakni konsumen menggunting kupon suara dari surat kabar dan mengirimkannya kepada panitia penyelenggara.

Dalam tiga dekade terakhir, metode survei terus berkembang, mulai dari survei langsung, survei melalui pos, buku harian konsumen, hingga survei daring berskala nasional. Meski demikian, menurut Phuong, prinsip utamanya tetap sama: gelar “Produk Vietnam Berkualitas Tinggi” diberikan berdasarkan suara konsumen dan perilaku pembelian yang terjadi di lapangan.

Untuk penilaian tahun 2026, survei dilakukan dalam skala besar dengan menjangkau lebih dari 21.000 konsumen dan lebih dari 4.000 gerai ritel di seluruh Vietnam, serta menghimpun lebih dari 155.000 suara. Dari hampir 4.500 bisnis yang awalnya dinominasikan, setelah proses verifikasi dan pengecekan silang dengan lembaga manajemen di berbagai daerah, daftar final menetapkan 581 bisnis sebagai penerima gelar Barang Berkualitas Tinggi Vietnam 2026.

Phuong menilai hasil survei menunjukkan pergeseran kepercayaan konsumen. Banyak usaha kecil dan menengah (UKM) serta bisnis lokal yang menjaga konsistensi kualitas produk tetap dipercaya dan dipilih. Hal ini, menurutnya, mengindikasikan konsumen semakin menaruh perhatian pada kualitas produk yang nyata, bukan semata pada iklan atau ukuran perusahaan.

Presiden HVNCLC, Vu Kim Hanh, menyampaikan bahwa temuan survei tahun ini juga menggambarkan perubahan pola persaingan pasar, dari dominasi persaingan harga menuju persaingan berbasis kualitas dan nilai merek. Ia menyebut konsumen kini lebih memperhatikan keamanan pangan, asal produk, tanggung jawab lingkungan, serta reputasi merek. Karena itu, bisnis yang menargetkan pembangunan berkelanjutan dinilai perlu membangun kepercayaan jangka panjang melalui kualitas yang konsisten dan informasi yang transparan.

Sejalan dengan itu, Laporan Konsumsi Hijau 2025 menunjukkan kesadaran konsumen terhadap perlindungan lingkungan meningkat. Namun, perilaku membeli produk ramah lingkungan masih terbatas, terutama karena harga yang lebih tinggi dan informasi produk yang dinilai belum cukup jelas. Dalam laporan tersebut, sebagian besar konsumen disebut hanya bersedia membayar tambahan sekitar 5–10% untuk produk ramah lingkungan.

Pada kesempatan yang sama, Asosiasi memperkenalkan proyek AI Digital Twin, yakni teknologi “kloning” konsumen digital untuk membantu mensimulasikan dan memprediksi perilaku belanja. Teknologi ini disebut memungkinkan bisnis menguji produk dan strategi pemasaran sebelum peluncuran ke pasar, dengan tujuan mengurangi risiko bisnis dan meningkatkan peluang keberhasilan produk baru.

Menurut para ahli ekonomi yang dikutip dalam paparan tersebut, pasar ritel Vietnam tengah memasuki fase persaingan baru. Dalam situasi ini, faktor kunci dinilai bukan lagi sekadar harga rendah, melainkan pemahaman konsumen, kualitas produk, dan reputasi merek. Kepercayaan konsumen disebut menjadi aset paling penting bagi bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat.