Pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2026 menampilkan beragam inovasi perangkat kesehatan wearable, mulai dari pemantauan glukosa, pelacak tekanan darah, hingga fitness tracker. Namun, di tengah kemajuan pemantauan kesehatan yang ditawarkan, dampak lingkungan dari penggunaan perangkat tersebut disebut masih jarang menjadi sorotan.
Merujuk laporan TechCrunch pada Selasa, 6 Januari 2026, perhatian terhadap sisi lingkungan belum sebanding dengan laju pengembangan perangkat wearable kesehatan. Kondisi ini diperkuat temuan studi terbaru dari Cornell University dan University of Chicago yang memproyeksikan permintaan perangkat kesehatan wearable dapat melonjak hingga 2 miliar unit per tahun pada 2050, atau meningkat 42 kali lipat dibandingkan permintaan saat ini.
Para peneliti merekomendasikan dua pendekatan untuk menekan dampak lingkungan, yakni perubahan material perangkat dan perubahan desain. Pertama, pengembangan chip yang memanfaatkan logam umum seperti tembaga sebagai pengganti mineral langka seperti emas. Kedua, penerapan desain modular agar papan sirkuit dapat digunakan kembali, sementara bagian luar perangkat dapat diganti.
“Ketika perangkat-perangkat ini digunakan dalam skala global, pilihan desain yang tampak kecil bisa berdampak sangat besar,” tulis salah satu penulis studi tersebut, sebagaimana dikutip Antara pada Kamis (08/01/2025).
Studi itu juga memperingatkan bahwa jika pola produksi wearable tidak berubah, perangkat-perangkat tersebut berpotensi menghasilkan lebih dari satu juta ton limbah elektronik (e-waste) serta 100 juta ton emisi karbon dioksida pada periode yang sama. Temuan lain yang dipublikasikan di jurnal Nature menekankan bahwa persoalan utama bukan terletak pada plastik, melainkan pada papan sirkuit cetak (printed circuit board/PCB) yang disebut menyumbang sekitar 70 persen dari total jejak karbon, terutama akibat proses penambangan dan manufaktur yang intensif.
Perangkat wearable kesehatan mencakup berbagai gawai yang dikenakan di tubuh untuk memantau kondisi kesehatan, seperti jam tangan pintar dan fitness tracker yang mengukur detak jantung, aktivitas, serta kualitas tidur. Selain itu, ada alat pemantau glukosa kontinu (CGM), pengukur tekanan darah dan EKG berbasis wearable, cincin pintar untuk pelacakan tidur dan kebugaran, hingga patch kesehatan yang menempel pada kulit untuk pemantauan data biometrik secara real time. Proyeksi lonjakan permintaan juga sejalan dengan perkembangan teknologi sensor yang semakin terjangkau dan mudah digunakan.
Di Indonesia, pengelolaan limbah elektronik disebut dapat menjadi pintu masuk untuk mendorong ekonomi sirkular. Sejumlah pihak mulai menggagas langkah kolaboratif dengan menyediakan fasilitas kotak pengumpulan atau drop box untuk menampung gawai yang sudah tidak terpakai sebagai langkah awal pengolahan kembali.
Dalam konferensi pers bertajuk Gerakan Jaga Bumi di Jakarta pada Kamis, 27 Februari 2025, perusahaan gawai Erafone mengundang komunitas, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk menyerahkan perangkat elektronik bekas ke drop box yang disediakan sebanyak 25–30 unit di lima wilayah kerja. Head of CSR Erajaya Grup Rezza Lazuardi Pramata menyatakan inisiatif tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus membangun kebiasaan konsumsi elektronik yang lebih bertanggung jawab.
Rezza menambahkan, skema drop box diharapkan memberi cara yang aman bagi masyarakat untuk membuang perangkat elektronik, sementara limbah yang terkumpul akan diproses oleh mitra daur ulang yang dinilai kompeten. “Sampah elektronik yang kelak terkumpul di sejumlah titik drop box Erafone akan didaur ulang melalui proses yang ramah lingkungan. Kami menunjuk mitra-mitra yang kompeten untuk mengelola limbah elektronik. Mereka akan melaporkan kembali perkembangan daur ulang yang dilakukan,” ujarnya.