BERITA TERKINI
Serangan Udara dan Gangguan Siber Guncang Iran, Aplikasi Doa Kirim Notifikasi Misterius

Serangan Udara dan Gangguan Siber Guncang Iran, Aplikasi Doa Kirim Notifikasi Misterius

Warga Iran dilaporkan terbangun dalam situasi mencekam pada 28 Februari 2026 ketika dua gelombang serangan terjadi hampir bersamaan. Selain dentuman bom dari serangan udara yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, jutaan ponsel warga juga menerima notifikasi misterius dari aplikasi doa populer.

Washington dan Tel Aviv menyebut serangan itu sebagai “serangan pendahuluan” yang terjadi setelah berbulan-bulan negosiasi diplomatik yang berujung buntu. Di dalam negeri, situasi Iran sebelumnya juga memanas akibat gelombang protes besar pada awal tahun. Pemerintah setempat menyatakan sedikitnya 3.117 orang tewas dalam rangkaian protes tersebut.

Tak lama setelah ledakan pertama terdengar, pada pukul 09.52 waktu Teheran, pengguna aplikasi kalender doa BadeSaba Calendar menerima pesan bertuliskan “Bantuan telah tiba.” Aplikasi yang tercatat memiliki sekitar lima juta unduhan di Google Play Store itu kemudian mengirim sejumlah pesan beruntun selama kurang lebih 30 menit berikutnya.

Tangkapan layar yang dibagikan kepada WIRED memperlihatkan isi pesan yang menyerukan tentara Iran untuk meletakkan senjata dan menjanjikan amnesti. Salah satu pesan pada pukul 10.02 menyatakan, “Saat pembalasan telah tiba. Pasukan represif rezim akan membayar atas tindakan kejam mereka. Siapa pun yang bergabung dalam membela rakyat Iran akan diberikan amnesti dan pengampunan.”

Pesan lain pada pukul 10.14 berisi seruan, “Demi kebebasan saudara-saudari Iran kita, ini adalah seruan kepada semua kekuatan represif – letakkan senjata Anda atau bergabunglah dengan pasukan pembebasan. Hanya dengan cara ini Anda dapat menyelamatkan hidup Anda.”

Hingga kini belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas dugaan serangan siber tersebut. Para analis keamanan siber menyatakan notifikasi itu memang diterima pengguna BadeSaba, namun sumber peretasan belum dapat dipastikan, termasuk apakah berkaitan langsung dengan Israel.

Morey Haber, Direktur Konsultasi Keamanan di BeyondTrust, menilai pola serangan ini menunjukkan adanya perencanaan yang matang. Ia mengatakan, “Terlepas dari jenis malware atau teknik yang digunakan, intrusi sistem telah terjadi sebelumnya. Pesan-pesan ini adalah muatan terjadwal atau yang dipicu oleh suatu peristiwa.” Menurutnya, kecil kemungkinan pesan tersebut muncul secara spontan tanpa adanya akses awal ke sistem.

Bersamaan dengan serangan udara dan notifikasi digital itu, Iran juga mengalami pemutusan konektivitas dalam skala nasional. Pemantauan NetBlocks menunjukkan lalu lintas internet nasional turun drastis hingga sekitar 4 persen dari kapasitas normal. Sementara data ArvanCloud mencatat sejumlah pusat data besar dan titik kehadiran jaringan domestik terputus dari koneksi internasional atau mengalami gangguan berat.

Dampak gangguan turut merembet ke jaringan telepon dan layanan pesan singkat, sementara panggilan internasional ke Iran dilaporkan terganggu. Akses VPN juga disebut menjadi sangat sulit. Sejumlah kantor berita milik negara, termasuk IRNA dan ISNA, turut menjadi sasaran serangan siber. Situs IRNA sempat tidak dapat diakses namun kemudian pulih, sedangkan ISNA dilaporkan masih mengalami gangguan saat laporan ini disusun.

Kombinasi serangan militer dan tekanan digital tersebut dinilai sebagai operasi terpadu yang tidak hanya menyasar infrastruktur fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Di tengah keterbatasan akses informasi dan komunikasi, warga Iran menghadapi situasi yang digambarkan belum pernah terjadi sebelumnya, ketika dampak konflik tidak hanya terasa di darat dan udara, tetapi juga melalui layar ponsel.