PT Securindo Packatama Indonesia (Secure Parking) menyiapkan sistem parkir tanpa tiket untuk pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran. Melalui teknologi berbasis aplikasi ponsel, pengendara nantinya dapat masuk dan keluar area parkir tanpa perlu membuka jendela kendaraan maupun mengambil tiket.
Presiden Direktur Secure Parking Rustam Rachmat mengatakan, teknologi tersebut bernama eNOS dan akan diakses melalui aplikasi ponsel dengan nama yang sama. Menurutnya, kendaraan cukup menggunakan aplikasi di ponsel untuk proses masuk dan keluar.
Rustam menjelaskan, perangkat pengguna akan terdeteksi otomatis saat kendaraan mendekati gerbang parkir. Ia menyebut sistem bisa mengenali dari jarak sekitar dua meter, sehingga proses keluar-masuk diharapkan lebih cepat dan tidak memerlukan waktu berhenti lama di pintu masuk atau keluar.
Meski pengembangannya disebut sudah selesai, Secure Parking belum meluncurkan eNOS secara resmi ke publik. Perusahaan masih menjalankan uji coba operasional untuk memastikan sistem bekerja optimal sebelum diterapkan lebih luas.
Saat ini, uji coba dilakukan di empat lokasi, yaitu kawasan Mangga Dua, Secure Park PIK 2, Mal PIK Avenue, serta Plaza Indonesia di Jakarta. Rustam menargetkan aplikasi eNOS dapat diluncurkan secara resmi pada tahun ini.
Rustam menambahkan, pengembangan tersebut merupakan bagian dari evolusi teknologi parkir yang berlangsung lebih dari tiga dekade. Pada tahap awal, pengelolaan parkir dilakukan sepenuhnya secara manual, sebelum kemudian beralih ke sistem komputerisasi.
Secure Parking berawal dari lahan parkir kecil di Jakarta Pusat pada 1992 dengan sistem manual. Memasuki akhir 1990-an, perusahaan mulai menerapkan sistem komputerisasi dalam operasional parkir. Pada 1996 hingga 1997, Secure Parking memperkenalkan boom gate atau palang parkir otomatis sebagai bagian dari modernisasi layanan.
Kini, Secure Parking menyebut telah menjalankan sistem parkir generasi kelima yang sebagian besar beroperasi secara otomatis. Dalam sistem ini, pintu masuk dan keluar dapat berjalan tanpa petugas di lapangan, dengan kamera dan sensor membaca nomor kendaraan, sementara verifikasi dilakukan oleh sistem berbasis kecerdasan buatan.