Program Hibah BESTARI Saintek Tahun 2026 menjadi ruang strategis bagi dosen Universitas Nusa Mandiri (UNM) untuk mengembangkan riset terapan dan pengabdian masyarakat berbasis inovasi teknologi. Melalui program ini, UNM mendorong aktualisasi kompetensi akademik sejalan dengan penguatan ekosistem riset di lingkungan kampus.
Dalam skema BESTARI Saintek 2026, sebanyak 11 proposal dosen UNM berhasil diajukan dengan pendekatan multidisiplin. Proposal tersebut melibatkan dosen dari bidang informatika, sistem informasi, dan manajemen, serta menggandeng kolaborasi eksternal di sektor kesehatan, teknik, hingga komunikasi.
Capaian pengajuan proposal ini dinilai mencerminkan budaya akademik UNM yang kolaboratif, adaptif, dan responsif terhadap tantangan pembangunan berbasis teknologi.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UNM, Nita Merlina, menekankan bahwa proses pengajuan hibah memiliki nilai strategis bagi penguatan kapasitas dosen maupun institusi. “Bagi dosen, Program BESTARI Saintek 2026 bukan sekadar soal pendanaan tetapi proses pembelajaran akademik yang penting untuk penguatan metodologi riset, kolaborasi lintas disiplin, serta peningkatan kualitas luaran tridarma,” ujarnya dalam rilis yang diterima Selasa (27/1/2026).
Menurut Nita, partisipasi aktif dosen dalam hibah nasional juga menjadi indikator kesiapan UNM dalam membangun ekosistem riset yang produktif dan berdampak. Ia menyatakan keterlibatan pada program tersebut sekaligus menegaskan komitmen UNM untuk mendorong riset terapan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri, serta memperkuat reputasi akademik di tingkat nasional.
UNM menyatakan optimistis bahwa hasil riset dan pengabdian dari program ini tidak hanya memperkaya publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi yang dapat diimplementasikan secara nyata.