CEO OpenAI Sam Altman membela penggunaan kecerdasan buatan (AI) dari kritik terkait dampak lingkungan, khususnya soal konsumsi energi dan air. Dalam dialog dengan Anant Goenka, Direktur Eksekutif The Indian Express Group di New Delhi, Altman menilai perbandingan konsumsi energi AI dengan manusia kerap tidak dilakukan secara adil.
Altman menepis klaim yang beredar di internet bahwa setiap permintaan (query) ke ChatGPT menghabiskan air dalam jumlah besar. Ia menyebut narasi seperti satu query ChatGPT menghabiskan 17 galon air sebagai tidak benar dan tidak sesuai fakta.
Meski demikian, Altman mengakui konsumsi energi AI secara total merupakan isu yang layak diperhatikan, terlebih karena penggunaan AI global meningkat pesat. Menurutnya, salah satu solusi yang perlu didorong adalah percepatan penggunaan energi nuklir serta energi terbarukan seperti angin dan surya.
Bagian yang paling menyita perhatian publik adalah pernyataannya tentang cara membandingkan energi yang dipakai AI dan manusia. Altman mengatakan banyak kritik hanya membandingkan energi untuk melatih model AI seperti GPT-4 dengan energi yang dibutuhkan manusia untuk menjawab satu pertanyaan.
Ia berpendapat, jika ingin adil, orang juga perlu menghitung energi yang dibutuhkan untuk “melatih” manusia. “Butuh sekitar 20 tahun kehidupan dan semua makanan yang dikonsumsi selama itu sebelum seseorang menjadi pintar,” kata Altman. Ia juga menyebut proses evolusi manusia selama miliaran tahun sebagai bagian dari energi yang digunakan untuk menghasilkan kecerdasan manusia.
Menurut Altman, perbandingan yang lebih tepat adalah menghitung berapa energi yang dibutuhkan AI untuk menjawab satu pertanyaan setelah modelnya dilatih, dibandingkan dengan energi yang digunakan manusia untuk melakukan hal yang sama. Dalam konteks itu, ia menilai AI kemungkinan sudah menyamai, bahkan melampaui, efisiensi energi manusia.
Pernyataan tersebut memicu kritik di media sosial. Sejumlah warganet menilai Altman bukan sekadar membela penggunaan energi AI, tetapi juga menyampaikan cara pandang yang dianggap merendahkan manusia.
Pengguna X bernama David Fairchild menilai analogi Altman berbahaya karena menyamakan manusia dengan “komputer daging” yang tidak efisien—yang membutuhkan makanan dan waktu bertahun-tahun sebelum bisa berguna. Menurut Fairchild, jika manusia dipandang sekadar sebagai “biaya energi untuk melatih kecerdasan”, maka penggunaan listrik dalam jumlah besar untuk membangun AI bisa terasa wajar, bahkan dianggap lebih baik, meski berdampak buruk pada manusia dan lingkungan.
Fairchild menyebut cara pikir tersebut sebagai distopia, yakni gambaran masa depan yang suram dan tidak manusiawi, karena membuat perkembangan manusia terdengar seperti kesalahan sistem dan menjadikan pengorbanan kesejahteraan manusia demi daya komputasi terlihat logis. Ia menegaskan, manusia bukan sekadar angka biaya energi, melainkan tujuan itu sendiri.
Kritik serupa juga muncul dari warganet lain yang mempertanyakan posisi Altman sebagai pemimpin perusahaan teknologi besar. Salah satu komentar menyebut tidak memahami bagaimana seseorang dengan pandangan seperti itu bisa memiliki kekuasaan besar dan membentuk masa depan.
Perdebatan ini berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap konsumsi listrik pusat data AI. Sebuah riset dari University of Rhode Island memperkirakan GPT-5 delapan kali lebih boros listrik dibanding GPT-4. Dalam riset itu, satu query yang dikerjakan GPT-5 diperkirakan mengonsumsi listrik rata-rata 18,35 watt-hour (Wh), jauh di atas GPT-4 yang sekitar 2,12 Wh.
Dengan konsumsi tersebut, GPT-5 disebut masuk jajaran model AI paling boros energi, hanya kalah dari OpenAI o3 dan DeepSeek R1 buatan China. Tingginya kebutuhan daya GPT-5 dikaitkan dengan fitur thinking mode yang memungkinkan AI memproses tugas lebih lama dan lebih mendalam, sehingga penggunaan energi dapat naik lima hingga sepuluh kali lipat dari respons standar.
Selain itu, kemampuan GPT-5 untuk memproses teks, gambar, dan video secara bersamaan turut menambah beban daya komputasi. OpenAI sebelumnya mengungkapkan ChatGPT memproses hingga 2,5 miliar permintaan per hari. Jika seluruhnya menggunakan GPT-5, konsumsi energi harian diperkirakan dapat mencapai 45 gigawatt-hour berdasarkan perhitungan kasar.
Jumlah itu disebut setara dengan produksi dua hingga tiga pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), atau cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 1,5 juta rumah tangga di Amerika Serikat dalam sehari. Para pakar memperingatkan, jika tren penggunaan AI tidak diimbangi efisiensi energi, kebutuhan daya pusat data berpotensi melonjak, berdampak pada biaya operasional sekaligus memunculkan tantangan baru terkait kebijakan iklim.