Fasilitas prioritas seperti toilet, parkir, kursi, dan lift yang disediakan bagi lansia, penyandang disabilitas, serta ibu hamil masih kerap digunakan oleh pengguna non-prioritas. Menanggapi persoalan tersebut, tim peneliti dari Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR) memetakan solusi berbasis teknologi dengan menggabungkan keamanan biometrik dan Internet of Things (IoT) untuk verifikasi akses otomatis serta pemantauan secara real-time.
Dalam survei terhadap pengguna prioritas, mayoritas responden menyatakan kesadaran bahwa penyalahgunaan fasilitas prioritas masih sering terjadi. Mereka juga menunjukkan tingkat penerimaan yang tinggi terhadap gagasan penggunaan penanda digital seperti smartphone atau smart tag, menilai perlunya sistem pengaman akses, serta menyetujui penerapan biometrik pada fasilitas prioritas.
Preferensi responden terhadap teknologi biometrik menunjukkan sidik jari sebagai pilihan paling nyaman, sekitar 67%. Pengenalan wajah berada di urutan berikutnya dengan sekitar 31%, disusul pemindaian iris sekitar 12%. Responden menilai sidik jari mudah digunakan dan reliabel, sementara pengenalan wajah dianggap praktis karena dapat diterapkan tanpa kontak pada skenario tertentu. Adapun pemindaian iris dinilai akurat, namun dianggap lebih rumit untuk kebutuhan harian. Temuan ini memberi arahan bagi perancang sistem untuk memulai dari opsi yang paling diterima agar adopsi berjalan lebih mulus.
Survei juga mengidentifikasi area yang dinilai paling rawan disalahgunakan. Parkir prioritas menempati posisi teratas dengan sekitar 40,5%, disusul toilet prioritas sekitar 28,6%, kursi prioritas sekitar 16,7%, dan lift prioritas sekitar 14,3%. Ketika diminta menentukan fasilitas yang paling awal dipasangi kontrol akses biometrik, responden menempatkan toilet dan parkir prioritas sebagai prioritas utama. Rekomendasi operasionalnya adalah memulai penerapan pada dua lokasi tersebut, kemudian diperluas ke kursi dan lift prioritas setelah evaluasi dampaknya.
Temuan ini dinilai relevan bagi pengelola fasilitas publik dan pembuat kebijakan kota cerdas. Tim peneliti menekankan pentingnya kemudahan penggunaan, perlindungan privasi, dan keamanan data dalam implementasi, termasuk penyimpanan template biometrik yang terlindungi, kebijakan persetujuan (consent) yang transparan, serta audit berkala.
Selain itu, peneliti merekomendasikan uji coba bertahap (pilot) pada sejumlah konteks, seperti kursi aksesibel di transportasi publik, jalur antrean prioritas di loket layanan, dan akses khusus di fasilitas rekreasi. Uji coba ini ditujukan untuk mengukur efektivitas, pengalaman pengguna, serta aspek biaya-manfaat sebelum penerapan dalam skala lebih luas.
Riset tersebut dilakukan oleh Faisal Fahmi, Zulfatun Sofiyani, Fitri Mutia, dan Hendro Margono dari Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Universitas Airlangga. Mereka menyimpulkan bahwa kombinasi biometrik dan IoT merupakan pendekatan yang feasible untuk menekan penyalahgunaan fasilitas prioritas sekaligus memperkuat inklusivitas dan aksesibilitas ruang publik bagi kelompok prioritas.