BERITA TERKINI
Riset Soroti Dua Faktor yang Dapat Mengganggu Fokus Anak: Didikan Keras dan Paparan Gadget Berlebihan

Riset Soroti Dua Faktor yang Dapat Mengganggu Fokus Anak: Didikan Keras dan Paparan Gadget Berlebihan

Banyak orang tua mendapati anak sulit berkonsentrasi, cepat bosan saat belajar, atau mudah meledak emosinya. Gejala ini kerap dianggap sekadar persoalan kedisiplinan. Namun, riset terbaru menunjukkan kemampuan fokus anak tidak lepas dari lingkungan emosional di rumah serta kebiasaan digital sehari-hari.

Menurut laporan yang dikutip dari Edufic, ada dua faktor yang sering luput dari perhatian dan disebut dapat menjadi “musuh besar” fokus anak: pola didikan keras dan paparan gadget yang berlebihan. Keduanya dinilai bukan hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga berkaitan dengan perubahan pada struktur dan fungsi otak anak.

Didikan keras dan dampaknya pada regulasi emosi

Sejumlah orang tua masih meyakini membentak atau bersikap keras merupakan cara efektif untuk mendisiplinkan anak. Padahal, otak anak disebut sangat sensitif terhadap tekanan. Penelitian saraf yang dirujuk dalam laporan tersebut menyebut anak yang sering mengalami kekerasan verbal atau bentakan dapat mengalami perubahan pada jalur otak yang berkaitan dengan pengaturan fokus dan emosi. Akibatnya, anak lebih mudah cemas dan kesulitan menahan diri.

Dalam situasi dibentak, otak anak juga dapat menafsirkan kondisi itu sebagai ancaman. Respons yang muncul adalah mode bertahan seperti fight, flight, atau freeze. Saat stres tinggi, bagian otak yang berperan dalam belajar dan berpikir logis, yakni Prefrontal Cortex, disebut dapat “mati” sementara. Kondisi ini menjelaskan mengapa anak justru tampak tidak memproses nasihat ketika disampaikan dengan teriakan.

Paparan gadget berlebihan dan kontrol perhatian

Selain faktor emosional di rumah, penggunaan gadget dinilai menjadi tantangan besar bagi kemampuan atensi anak di era digital. Laporan tersebut menjelaskan bahwa aktivitas seperti menggulir layar atau menerima notifikasi dapat memicu pelepasan dopamin, hormon yang berkaitan dengan rasa senang, sebagai “hadiah kecil” bagi otak. Karena gadget menawarkan stimulasi cepat dan instan, aktivitas yang lebih lambat—seperti membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru—bisa terasa membosankan bagi anak.

Riset yang menggunakan fMRI, sebagaimana disebut dalam laporan itu, juga menyoroti bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat melemahkan kontrol perhatian. Anak menjadi lebih mudah terdistraksi, sulit menahan impuls, dan cenderung mencari hal baru dalam interval singkat. Dampaknya, kemampuan fokus jangka panjang disebut dapat menurun.

Temuan-temuan tersebut menggarisbawahi bahwa kesulitan fokus pada anak tidak selalu berdiri sendiri sebagai masalah akademik. Pola pengasuhan dan kebiasaan digital dapat berperan besar dalam membentuk kemampuan anak mengelola emosi serta mempertahankan perhatian.