BERITA TERKINI
Rehat Gadget Dinilai Penting untuk Menekan Risiko Kelelahan Digital

Rehat Gadget Dinilai Penting untuk Menekan Risiko Kelelahan Digital

Ketergantungan masyarakat terhadap teknologi kian tinggi, namun para ahli kesehatan mengingatkan dampak penggunaan gawai secara berlebihan terhadap kesehatan fisik dan mental. Fenomena kelelahan digital disebut menjadi perhatian karena dapat mengganggu kenyamanan beraktivitas hingga kualitas hidup.

Salah satu keluhan yang kerap muncul adalah Computer Vision Syndrome (CVS), yakni kondisi mata lelah, penglihatan kabur, dan sakit kepala akibat menatap layar dalam durasi lama, termasuk paparan cahaya biru (blue light). Selain itu, kebiasaan menunduk saat menggunakan ponsel dalam waktu panjang juga dapat memicu ketegangan otot leher dan bahu secara kronis yang dikenal sebagai text neck syndrome.

Dampak lain yang dinilai serius berkaitan dengan kualitas tidur. Paparan cahaya biru pada malam hari dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesulitan tidur pada waktunya atau penurunan kualitas tidur. Dalam jangka panjang, tidur yang tidak berkualitas disebut berpotensi menurunkan sistem imun dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Dari sisi psikologis, penggunaan gawai tanpa jeda juga dapat memicu kecemasan dan stres digital. Arus informasi yang cepat dan terus-menerus berisiko membuat otak kewalahan. Karena itu, rehat sejenak dari media sosial maupun aplikasi pesan singkat dinilai penting untuk memberi ruang istirahat bagi otak, membantu meningkatkan konsentrasi, serta memperbaiki hubungan sosial di dunia nyata.

Untuk menerapkan rehat gadget secara efektif, para pakar kesehatan menyarankan beberapa langkah sederhana. Pertama, menerapkan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan otot mata. Kedua, membatasi penggunaan gawai 30 hingga 60 menit sebelum tidur agar tubuh dan pikiran bersiap untuk beristirahat. Ketiga, menetapkan area bebas gawai di rumah, seperti meja makan atau kamar tidur, guna meningkatkan interaksi antaranggota keluarga. Keempat, melakukan digital detox berkala, misalnya menjauh dari gawai selama beberapa jam di akhir pekan untuk beraktivitas fisik atau menekuni hobi.

Teknologi dinilai diciptakan untuk mempermudah kehidupan, namun penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak berdampak buruk pada kesehatan. Rehat gawai bukan berarti menolak teknologi, melainkan upaya sadar untuk memprioritaskan kesejahteraan diri di tengah aktivitas digital yang padat.