BERITA TERKINI
Putra Presiden Iran Desak Pemulihan Internet, Peringatkan Dampak Pembatasan pada Sentimen Publik

Putra Presiden Iran Desak Pemulihan Internet, Peringatkan Dampak Pembatasan pada Sentimen Publik

Yousef Pezeshkian, penasihat pemerintah sekaligus putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyerukan agar pemerintah segera memulihkan layanan internet secara menyeluruh. Ia menilai pembatasan yang terus berlanjut berisiko memperburuk sentimen antipemerintah di tengah situasi yang masih tegang.

Dalam unggahan di Telegram, Yousef menyatakan bahwa beredarnya video yang menampilkan kekerasan dalam protes merupakan hal yang pada akhirnya akan dihadapi. Menurutnya, mematikan internet tidak menyelesaikan persoalan, melainkan hanya menundanya. Ia juga menilai risiko mempertahankan pemutusan akses internet lebih besar dibandingkan kemungkinan kembalinya protes jika konektivitas dipulihkan.

Yousef menambahkan bahwa institusi keamanan harus tetap menjamin keamanan meski internet tersedia. Ia menyebut internet sebagai kebutuhan dalam kehidupan.

Pemadaman internet diberlakukan pada 8 Januari, setelah unjuk rasa terkait kesulitan ekonomi berubah menjadi kerusuhan mematikan. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan pada Senin (26/1/2026) bahwa jumlah korban tewas akibat protes di Iran mencapai 6.126 orang, dengan 11.009 lainnya terluka. HRANA juga mencatat sedikitnya 41.880 orang ditangkap.

Di tengah pembatasan tersebut, foto-foto korban tewas, termasuk anak-anak, mulai bermunculan di sejumlah situs internet di dalam Iran. Direktur Rumah Sakit Mata Farabi di Teheran, Ghasem Fakhraei, mengatakan staf pusat spesialis oftalmologi itu telah menangani lebih dari 1.000 pasien yang membutuhkan operasi mata darurat sejak protes berlangsung, dan bangsal rumah sakit disebut penuh sesak.

Kelompok hak asasi manusia menyatakan pemutusan akses internet bertujuan menyembunyikan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan aparat keamanan. Langkah itu juga dinilai membatasi kemampuan pengunjuk rasa untuk mengorganisir, menghambat arus informasi, serta menyulitkan verifikasi independen atas kabar yang beredar.

Protes di Iran pertama kali pecah di Teheran pada 28 Desember 2025, dipicu depresiasi tajam mata uang rial dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum menyebar cepat ke berbagai wilayah. Seperti sejumlah pejabat pemerintah lainnya, Yousef menyalahkan campur tangan asing atas kekerasan dalam protes. Namun, ia juga mengakui adanya kemungkinan kesalahan aparat keamanan dan penegak hukum yang perlu ditindaklanjuti.

Di sisi lain, laporan menyebut terdapat perbedaan pandangan di internal pemerintah mengenai keamanan pelonggaran pembatasan internet. Presiden dan Menteri Komunikasi Sattar Hashemi disebut mendukung pemulihan, sementara kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani menentangnya.

Pembatasan internet juga berdampak pada aktivitas ekonomi. Pasar saham Teheran dilaporkan turun untuk hari keempat berturut-turut pada Minggu (25/1/2026), sementara nilai rial terus melemah terhadap dolar. Meski toko-toko kembali buka, aktivitas perdagangan disebut masih rendah.

Organisasi perdagangan komputer Iran menyatakan pemadaman internet menyebabkan kerugian sebesar 20 juta dolar AS per hari. Sopir truk juga melaporkan kesulitan menyeberang perbatasan karena tidak adanya dokumen elektronik. Seorang pedagang mengatakan mereka hanya mendapat sekitar 20 menit akses internet yang diawasi setiap hari, cukup untuk membalas beberapa email namun tidak memadai untuk menjalankan bisnis.