BERITA TERKINI
Puasa Digital Saat Prapaskah, Umat Diajak Kendalikan Penggunaan Gadget dan Media Sosial

Puasa Digital Saat Prapaskah, Umat Diajak Kendalikan Penggunaan Gadget dan Media Sosial

BOVEN DIGOEL — Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk memperdalam pengendalian diri, tidak hanya melalui pantang makanan dan minuman, tetapi juga dengan mengelola kebiasaan sehari-hari. Salah satu bentuk pantang yang kian banyak dilakukan adalah mengurangi penggunaan media sosial dan gadget agar umat lebih fokus pada kehidupan spiritual dan relasi dengan Tuhan.

Guru katekese sekaligus prodiakon di Boven Digoel, Kristina Teagi, menilai kebiasaan menggunakan media sosial dan gadget dapat mengalihkan perhatian dari hal-hal yang lebih bermakna selama Prapaskah.

“Tantangan terbesar dalam Prapaskah kali ini adalah mengendalikan kebiasaan yang selama ini mengalihkan perhatian kita dari Tuhan, seperti media sosial. Puasa itu bukan hanya menahan lapar. Kita juga diajak untuk mengendalikan kebiasaan yang mengganggu hubungan spiritual kita dengan Tuhan, seperti ketergantungan pada gadget dan media sosial,” ujar Kristina, Jumat, 20 Februari 2026.

Menurutnya, Prapaskah bukan semata-mata soal menahan lapar, melainkan waktu untuk memperbaiki kebiasaan buruk yang mengganggu relasi dengan Tuhan dan sesama. Ia mengaku menerapkan perubahan dengan mengurangi waktu di media sosial serta menghindari penggunaan ponsel secara berlebihan. Waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk menjelajahi dunia maya dialihkan ke kegiatan yang dinilai lebih produktif dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Ini bukan hanya soal mengurangi hiburan. Saya memilih untuk mengosongkan pikiran dari informasi yang tidak penting dan menggantinya dengan hal-hal yang lebih membangun, seperti berdoa, refleksi, dan berinteraksi langsung dengan sesama,” katanya.

Kristina menilai puasa digital memberi manfaat yang terasa, mulai dari meningkatnya kualitas hubungan dengan Tuhan hingga ketenangan batin. Ia juga menyebut, berkurangnya penggunaan gadget membuka ruang untuk interaksi yang lebih bermakna dengan orang-orang terdekat dan membantu umat lebih berfokus pada doa serta refleksi pribadi, dibanding terjebak pada arus informasi yang tidak penting.