BERITA TERKINI
PTKI Pamer Riset Sains dan Teknologi: Dari Anoda Baterai EV hingga Mitigasi Krisis Iklim Pesisir

PTKI Pamer Riset Sains dan Teknologi: Dari Anoda Baterai EV hingga Mitigasi Krisis Iklim Pesisir

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) disebut kian melampaui peran tradisionalnya sebagai pusat studi keagamaan. Sejumlah kampus PTKI kini memamerkan riset sains dan teknologi yang diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan global, mulai dari energi hingga krisis iklim.

Gambaran transformasi tersebut mengemuka dalam forum virtual Inovasi Kajian Riset Akademik Ramadan (IKRAR) Seri #2 yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama melalui Zoom, Selasa (24/2/2026). Agenda bertajuk “Frontiers of Islamic Research: Inovasi Riset PTKI dalam Merespons Krisis Kemanusiaan, Lingkungan, dan Teknologi” itu menampilkan hasil penelitian unggulan yang didanai melalui skema hibah Mora.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Sahiron, menekankan bahwa kampus Islam memiliki kapasitas untuk menghasilkan solusi yang berdampak bagi peradaban. Ia juga mengaitkan transformasi akademik tersebut dengan komitmen pemerintah memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas melalui jalur penerimaan SPAN dan UM-PTKIN pada tahun ini.

Salah satu riset yang dipaparkan datang dari Abd Mujahid Hamdan, akademisi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Melalui penelitian bertajuk Green Synthesis, ia mengembangkan nanopartikel nikel oksida untuk anoda baterai kendaraan listrik dengan memanfaatkan ekstrak tumbuhan lokal.

Menurut Abd Mujahid Hamdan, inovasi tersebut mampu meningkatkan kapasitas baterai hingga 22,73 persen dibandingkan produk serupa di industri. Selain aspek efisiensi energi, riset ini juga dikaitkan dengan solusi pemulihan lingkungan melalui teknik phytomining, yakni pemanfaatan tanaman untuk menyerap dan membersihkan logam berat di lahan bekas tambang nikel.

Dari sisi ekologi sosial, Prof. Maghfur Ahmad dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan memaparkan riset mengenai dekolonialisasi mitigasi perubahan iklim di pesisir Jawa Tengah. Dalam pemaparannya, ia menyoroti kondisi rentan Kota Pekalongan yang disebut terancam tenggelam pada 2035 akibat penurunan muka tanah (land subsidence) yang masif.

Prof. Maghfur mengkritik pendekatan mitigasi perubahan iklim yang dinilai selama ini cenderung bersifat dari atas ke bawah (top-down) dan kerap mengabaikan peran perempuan pesisir serta kearifan lokal. Ia menekankan bahwa upaya menjaga mangrove tidak semata menanam pohon, melainkan juga menjaga tradisi dan identitas peradaban pesisir, dengan perempuan sebagai aktor kunci yang memiliki pengetahuan adaptasi iklim.

Riset tersebut mengusulkan prototipe gerakan ekologi yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni tradisi, ekonomi, lingkungan, dan advokasi sosial.

Untuk memastikan riset tidak berhenti di laboratorium atau publikasi ilmiah, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kemenag, Nur Khafid, mendorong langkah hilirisasi. Ia menilai riset inovatif dari kampus Islam perlu didukung kolaborasi lintas disiplin antara akademisi, industri, dan masyarakat agar dapat diwujudkan menjadi kebijakan publik maupun produk industri yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan lingkungan.