BERITA TERKINI
Psikolog Unair Ingatkan Bahaya Role-Playing di Media Sosial bagi Anak, Orang Tua Diminta Perkuat Pengawasan

Psikolog Unair Ingatkan Bahaya Role-Playing di Media Sosial bagi Anak, Orang Tua Diminta Perkuat Pengawasan

Surabaya—Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh video yang memperlihatkan seorang ayah memukuli anaknya karena sang anak enggan berhenti bermain gadget. Anak tersebut diduga tengah asyik memainkan gim role-playing, yakni permainan yang membuat pemain memerankan karakter atau kepribadian orang lain melalui media sosial. Peristiwa itu memicu perhatian luas warganet.

Menanggapi fenomena tersebut, Psikolog Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Dr Dewi Retno Suminar MSi, menilai role-playing di media sosial sangat tidak dianjurkan bagi anak-anak. Menurutnya, dalam permainan semacam ini anak dapat secara bebas memainkan peran sebagai publik figur atau sosok lain, sehingga pengawasan orang tua menjadi kunci.

“Karena itu, peran orang tua di sini menjadi penting dalam mengawasi dan mengontrol aktivitas online anak-anak mereka,” kata Dewi di Surabaya, Senin (3/7/2023).

Dewi menjelaskan, dalam psikologi perkembangan terdapat fase ketika anak bermain dengan imajinasi. Pada dasarnya, imajinasi anak saat memerankan tokoh lain merupakan hal yang wajar, misalnya saat anak bermain sebagai dokter, polisi, pilot, guru, atau astronot. Aktivitas semacam itu dinilai lumrah karena terjadi dalam konteks nyata, dilakukan bersama teman, serta masih berada dalam jangkauan pengawasan orang tua.

Namun, ia menyoroti perbedaan ketika role-playing dilakukan di media sosial. Anak-anak kerap memerankan tokoh idola dan berinteraksi dengan orang lain secara luas melalui platform digital. Kondisi ini, menurut Dewi, dikhawatirkan memunculkan fantasi dan imajinasi berlebih pada anak.

“Bahayanya saat bermain roleplay ini mereka memainkan peran diri sebagai ‘idola’ yang juga berinteraksi dengan orang lain secara luas melalui platform digital,” ujarnya.

Dewi juga mengingatkan adanya dampak serius yang dapat muncul, salah satunya potensi adiksi gadget. Ia menyebut anak dapat merasa cemas ketika tidak memegang gawai hingga menimbulkan ketergantungan.

“Dampak yang mungkin adalah adanya perasaan cemas apabila anak tidak memegang gawai dan menimbulkan ketergantungan,” tutur Dewi.

Selain itu, anak berpotensi kehilangan jati diri karena pikiran dan imajinasinya terus berfokus pada tokoh idola yang dimainkan. Dampak lain yang dikhawatirkan adalah perubahan pola pikir, ketika anak menjadi berpikir dewasa sebelum waktunya.

Menurut Dewi, tanda adiksi terlihat ketika anak tidak mampu menahan diri untuk berhenti melakukan aktivitas tersebut. Ia menekankan hal ini perlu menjadi perhatian, terutama jika sudah berada di luar kontrol orang tua.

Lebih jauh, Dewi menilai role-playing di media sosial dapat memengaruhi anak jika tidak diawasi dengan baik karena cenderung menyita banyak waktu, mengganggu keseimbangan aktivitas online dan offline, serta berpotensi memengaruhi perkembangan sosial dan emosional.

Karena itu, ia mengajak orang tua untuk memahami digital parenting sebagai alat bantu membatasi sekaligus memanfaatkan perangkat digital untuk mengawasi aktivitas anak.