Psikolog perkembangan anak, keluarga, dan pengembangan diri Asteria R Saroinsong menilai penggunaan gawai pada anak-anak dapat memengaruhi proses perkembangan fisik hingga kognitif. Ia menjelaskan, salah satu faktor yang berperan adalah kecepatan informasi, terutama dari media sosial, yang kerap menjadi konsumsi anak ketika bermain gawai.
Asteria menyebut, salah satu gejala yang dapat muncul ketika anak terlalu sering menggunakan gawai adalah gangguan kesehatan mata. Ia mengatakan, berdasarkan sejumlah literatur yang dibacanya, paparan ponsel sejak terlalu dini dan tayangan yang bergerak cepat dapat berdampak pada kesehatan mata.
Selain itu, ia menyoroti kecepatan tayangan dan banyaknya pilihan konten di dalam gawai yang dinilai dapat memicu gejala brain rot atau penurunan kemampuan kognitif anak di masa mendatang. Menurutnya, kebiasaan terpapar stimulasi yang cepat dan berpindah-pindah dapat memengaruhi cara anak memproses informasi, termasuk pada aspek konsentrasi.
Karena itu, Asteria mengingatkan orang tua untuk melakukan pengawasan ketika memberikan gawai kepada anak, termasuk membuat kesepakatan mengenai tujuan dan aturan penggunaannya. Jika gawai diberikan untuk kebutuhan mengerjakan tugas sekolah, ia menilai hal itu dapat dilakukan, namun tetap dalam pengawasan orang yang bisa dipercaya.
Asteria juga menegaskan bahwa pemberian gawai bukan berarti anak dapat menggunakannya tanpa batas. Menurutnya, orang tua perlu menetapkan batasan-batasan yang jelas karena anak masih berada dalam fase memahami emosi dan membentuk tanggung jawab.
Ia menambahkan, tidak ada batasan pasti mengenai usia kapan anak boleh menggunakan gawai. Namun, merujuk sejumlah jurnal, ia menyebut anak dinilai lebih layak diberikan ponsel setelah berusia sekitar 10–14 tahun. Meski demikian, ia menekankan bahwa aspek terpenting tetap pengawasan orang tua, disertai pemberian alasan, batasan, dan etika dalam menggunakan media sosial.
Dalam konteks media sosial dan gim yang memiliki fitur komunikasi, Asteria menilai anak juga perlu dibekali aturan yang konsisten tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, termasuk etika berinteraksi.
Sementara itu, hasil diskusi dalam Program Wawasan Polling Radio Suara Surabaya pada Kamis (31/7/2025) pagi menunjukkan mayoritas masyarakat tidak setuju jika anak sekolah dasar sudah memiliki ponsel pribadi. Data Gatekeeper Radio Suara Surabaya di Instagram mencatat 28 persen responden menyatakan setuju, sedangkan 72 persen menyatakan tidak setuju.