JAKARTA — Kekhawatiran orangtua terhadap keselamatan anak mengalami pergeseran seiring perubahan zaman. Jika dulu kecemasan muncul ketika anak belum juga pulang karena terlalu asyik bermain di luar, kini situasinya berbalik. Tantangan pengasuhan di era digital justru mengintai saat anak tampak tenang di rumah, berlama-lama di kamar bersama gawainya.
Fenomena ini kerap mengecoh karena anak terlihat berada dalam jangkauan fisik yang aman. Namun, menurut psikiater dr. Kusuma Minayati, Sp.KJ(K), kondisi tersebut tidak otomatis berarti anak terlindungi. Dunia digital yang tanpa batas dapat membawa risiko, termasuk paparan dari pihak luar yang tidak diketahui orangtua.
“Sekarang anak mungkin lebih anteng ya, karena memang di rumah saja. Tapi dengan dia di rumah dan pegang gadget saja, tanpa diketahui, itu dia lagi main apa sih? Dia lagi chat sama siapa sih?” kata dr. Kusuma dalam dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (27/2/2026).
Dr. Kusuma menilai anak yang menjadikan gawai sebagai “dunianya” merupakan tantangan berat. Keberadaan anak di dalam rumah, menurut dia, tidak lagi dapat dijadikan satu-satunya indikator keamanan, terutama bila penggunaan gawai berlangsung tanpa pengawasan. Di tengah tahap perkembangan anak, dunia digital juga dapat memunculkan tekanan mental tersendiri.
“Jadinya, orangtua bisa berpotensi tidak benar-benar mendampingi, atau ‘hadir’ sebagai orangtua,” ujar dr. Kusuma yang merupakan psikiater anak dan remaja di RSIA Bunda Jakarta.
Ia menekankan, tantangan terbesar bukan semata durasi penggunaan gawai, melainkan hilangnya “kehadiran” orangtua secara utuh. Karena itu, orangtua disebut perlu menjadi garda terdepan untuk melindungi anak dari pengaruh eksternal, termasuk dengan membangun koneksi yang lebih menyeluruh dalam keseharian.
Selain pendampingan, orangtua juga dinilai perlu membekali anak dengan pemahaman tentang bahaya dan risiko di dunia maya. Salah satunya, pentingnya menjaga data diri agar tidak disalahgunakan.
Tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai, anak berisiko mengalami perundungan di dunia maya, terpapar konten yang tidak sesuai usia, hingga mengalami gangguan perilaku.
“Negatifnya (dunia maya) memang tidak terhindarkan. Karena anak memang masih dalam tahap perkembangan, bagaimana orangtua dan lingkungannya bisa mendampingi?” kata dr. Kusuma.