BERITA TERKINI
Psikiater Ingatkan Orang Tua Terapkan Aturan agar Anak Tidak Berlebihan Main Gadget Saat Libur Sekolah

Psikiater Ingatkan Orang Tua Terapkan Aturan agar Anak Tidak Berlebihan Main Gadget Saat Libur Sekolah

Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi Dr. dr. Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ(K) mengingatkan orang tua untuk menerapkan aturan penggunaan gadget pada anak, terutama selama masa libur sekolah. Ia menilai pembatasan perlu dilakukan agar anak tidak menggunakan gadget secara berlebihan.

Kepala Departemen Psikiatri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menekankan, orang tua sebaiknya tidak hanya melarang anak bermain gadget terus-menerus, tetapi juga memberi contoh dalam kebiasaan menggunakan perangkat digital.

Menurut Kristiana, aturan di rumah perlu dibuat jelas, termasuk terkait tempat penggunaan gadget. Anak, misalnya, tidak dianjurkan bermain gadget di meja makan atau sendirian di kamar. Ia menyarankan penggunaan gadget dilakukan di ruang keluarga yang terbuka, seperti ruang tamu, agar lebih terpantau dan bisa menjadi aktivitas bersama.

Selain soal tempat, Kristiana menyebut orang tua perlu menerapkan aturan waktu penggunaan gadget dan menyeimbangkannya dengan kegiatan bersama keluarga. Ia juga menyarankan mematikan bunyi notifikasi agar tidak memicu keinginan anak untuk terus membuka gadget.

Aturan lainnya adalah membatasi perangkat seperti gadget, laptop, atau komputer agar tidak dibawa ke kamar tidur anak. Orang tua juga dapat menentukan waktu khusus untuk mengumpulkan gadget, misalnya sekitar pukul 20.00 atau 21.00.

Kristiana menambahkan, penggunaan timer dapat membantu membatasi durasi bermain gim maupun mengakses media sosial. Ia merujuk pada penelitian yang dilakukan pihaknya bahwa bermain gim tidak disarankan lebih dari tiga jam per hari. Ia juga menganjurkan agar seluruh anggota keluarga menerapkan kebiasaan yang sama.

Saat libur sekolah, anak kerap bermain gim online bersama teman atau “mabar”. Kristiana menilai kebiasaan ini bisa membuat anak sulit berhenti karena muncul kekhawatiran akan dijauhi teman bila tidak ikut bermain.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia menyarankan orang tua membagi waktu bermain menjadi sesi-sesi singkat. Contohnya, anak diperbolehkan bermain dua sesi gim dengan durasi sekitar 20 menit per sesi, kemudian diajak melakukan aktivitas lain di luar gim. Ia menekankan orang tua perlu kreatif dalam menawarkan alternatif kegiatan.

Kristiana juga menyinggung situasi ketika anak tantrum saat penggunaan gadget dibatasi. Ia menyarankan orang tua tidak langsung menuruti keinginan anak. Menurutnya, tantrum kerap muncul sebagai bentuk anak mencari perhatian ketika keinginannya tidak dipenuhi. Ia menilai orang tua tidak perlu panik karena tantrum biasanya akan mereda dengan sendirinya.