Sejumlah pemimpin industri dan akademisi menyoroti pentingnya inovasi yang menyeluruh dan kolaboratif dalam mendorong pengembangan industri hayati serta teknologi ketahanan pada PRIMA x CEO Summit ITB 2025. Dalam forum ini, pembahasan mencakup strategi inovasi organisasi, tren industri farmasi, tantangan layanan kesehatan di Indonesia, hingga contoh riset terapan lintas disiplin yang menghasilkan produk siap pakai.
CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat, menekankan bahwa inovasi tidak semata soal produk. Menurutnya, inovasi produk hanya satu dari sepuluh jenis inovasi, yang juga mencakup aspek struktur organisasi, kerja sama, pengembangan talenta, hingga penetapan harga. Ia menilai energi organisasi sering terlalu terfokus pada inovasi produk, padahal seluruh jenis inovasi seharusnya dapat berjalan beriringan.
Dari industri farmasi, Dr. apt. Neni Nurainy, Kepala Divisi Riset dan Pengembangan Translasi Produk Life Science PT Bio Farma, memaparkan sepuluh tren yang berkembang, antara lain genomic medicine, neuroteknologi, nanoteknologi, imunoterapi, kedokteran regeneratif, penelitian mikrobioma, 3D printing, pengobatan gaya hidup dan nutrisi personal, AI dan machine learning, serta telemedicine.
Ia juga menjelaskan bahwa biopharma tradisional dapat tersaingi melalui breakthrough innovation. Contohnya mencakup pencegahan dan deteksi dini, customized treatments, curative therapies, serta digital therapeutics seperti intervensi digital untuk mengubah gaya hidup. Selain itu, ia menyinggung precision intervention, misalnya operasi dengan bantuan robot.
Direktur Utama PT Indofarma, Sahat Sihombing, mengangkat tantangan sektor kesehatan di Indonesia, termasuk keterbatasan akses obat-obatan dan tenaga ahli kesehatan, terutama di wilayah Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyampaikan bahwa Indofarma menghadirkan inovasi produk Multi Parameter Telehealth Vitalsign Monitoring System yang telah diuji di berbagai kota di Indonesia serta telah memperoleh sertifikasi dari Sucofindo dan Kementerian Kesehatan. Melalui sistem tersebut, tenaga kesehatan di daerah 3T dapat mengirimkan hasil kondisi kesehatan pasien ke rumah sakit rujukan.
Dari sisi akademisi, Dosen Kelompok Keahlian (KK) Manajemen Sumber Daya Hayati ITB, Prof. Ir. Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D., menjelaskan proses pengembangan ProdiB+ Propolis untuk kasa luka siap pakai yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. Ia menyebut riset awal dimulai pada 2019, dengan desain produk oleh FSRD, pemilihan jenis kasa dan formulasi akhir oleh SF, penetapan model bisnis oleh SBM, serta pengembangan mesin pelapis kain dan ekstraksi propolis oleh FTMD. Ia menambahkan, timnya bekerja sama dengan 15 Ph.D. dan menghasilkan produk dengan harga Rp15.000.
Di akhir sesi diskusi panel kedua, Deputi Direktur Pengembangan Usaha Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi ITB sekaligus moderator, Melia Famiola, S.T.P., M.T., Ph.D., menyimpulkan bahwa kemampuan berkolaborasi serta kemampuan melihat peluang dari masalah menjadi faktor penting dalam pengembangan inovasi.