PT Pertamina Patra Niaga mengakui keterbatasan akses internet masih menjadi tantangan utama dalam menjaga akuntabilitas distribusi BBM subsidi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kendala ini muncul di tengah upaya perusahaan mendorong digitalisasi penyaluran energi secara menyeluruh.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar mengatakan digitalisasi penyaluran energi di wilayah 3T belum sepenuhnya ditopang infrastruktur jaringan yang memadai. Menurut dia, sejumlah SPBU dan lembaga penyalur di wilayah 3T diarahkan masuk ke dalam sistem digital untuk memastikan pertanggungjawaban penyaluran BBM subsidi, namun kondisi lapangan menunjukkan belum semua wilayah memiliki jaringan internet yang stabil.
“Di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar ini ada tantangan mengenai akses jaringan internet,” kata Achmad dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Ia menambahkan, beberapa daerah belum tersambung dengan jaringan internet yang memadai sehingga menyulitkan penerapan sistem digital secara konsisten. “Beberapa daerah belum tersambung jaringan internet yang memadai. Ini menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga terus memperluas penyaluran program BBM satu harga di wilayah 3T. Achmad menyebut, sejak 2017 hingga 2024 distribusi BBM satu harga telah menjangkau 573 outlet. Jumlah tersebut direncanakan bertambah secara bertahap hingga 2029 seiring pengembangan lembaga penyalur baru.
Untuk menjaga distribusi tetap berjalan sekaligus mempertahankan aspek pengawasan di wilayah yang belum memiliki koneksi memadai, Pertamina Patra Niaga menyiapkan langkah darurat. Dalam kondisi tertentu, skema manual diterapkan dengan kewajiban pengunggahan data ke pusat setelah jaringan memungkinkan.
Selain persoalan konektivitas, distribusi BBM di wilayah 3T juga menghadapi tantangan ketika terjadi bencana di sejumlah daerah Sumatera. Terputusnya akses jalan membuat perusahaan perlu menerapkan pola distribusi alternatif agar stok energi tetap terjaga dan layanan kepada masyarakat tidak terhenti.
Pertamina Patra Niaga menilai penguatan infrastruktur digital menjadi kebutuhan mendesak bagi wilayah 3T. Perusahaan juga menilai dukungan lintas sektor diperlukan agar distribusi BBM subsidi tetap akuntabel dan berkelanjutan.