Persaingan kecerdasan buatan (AI) antara Amerika Serikat dan China tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan model maupun ketersediaan chip. Seiring ekspansi AI yang kian cepat, pasokan listrik kini dinilai menjadi faktor krusial yang dapat menentukan arah perlombaan tersebut.
Sejumlah pengamat menilai China berada pada posisi lebih unggul dalam mendukung pertumbuhan industri AI, terutama karena kesiapan infrastruktur energi. Laporan Fortune menyebut listrik telah menjadi “bottleneck” atau titik lemah utama dalam pengembangan AI di Amerika Serikat, sehingga kemampuan negara itu untuk memperluas kapasitas pusat data disebut mulai menghadapi hambatan.
Kebutuhan energi pusat data meningkat tajam karena model AI modern memerlukan daya komputasi yang sangat besar. Konsekuensinya, konsumsi listrik dan air di pusat data ikut melonjak, termasuk untuk sistem pendingin agar perangkat komputasi tetap stabil saat beroperasi tanpa henti.
Di China, kebutuhan energi untuk mendukung AI dinilai telah lebih dulu diantisipasi melalui investasi agresif pada jaringan listrik nasional. Editor Tech Buzz China, Rui Ma, yang mengamati langsung perkembangan teknologi AI di China, menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi di mana ketersediaan listrik dianggap sudah menjadi kepastian.
Menurut Ma, situasi ini berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Di sana, pertumbuhan AI disebut kerap tersendat oleh perdebatan soal kapasitas listrik, konsumsi energi pusat data, hingga keterbatasan jaringan.
Keterbatasan pasokan listrik di AS juga memunculkan langkah-langkah yang dinilai ekstrem. Salah satu contohnya datang dari perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, yang dilaporkan menggunakan sekitar 35 generator gas metana portabel di area parkir pusat datanya di Memphis. Langkah tersebut menuai kritik karena dinilai menimbulkan polusi udara dan berdampak pada lingkungan sekitar.
Sementara itu, China relatif tidak menghadapi persoalan serupa. Sepanjang 2024, China disebut menyumbang hampir 65 persen dari total pembangunan energi terbarukan global. Negara itu memasang panel surya dan turbin angin dalam skala besar, bahkan disebut berkontribusi pada turunnya emisi karbon dioksida (CO2) nasional untuk pertama kalinya, meski permintaan energi terus mencetak rekor.
Di tengah pergeseran fokus persaingan dari model dan chip ke kesiapan energi, perkembangan teknologi chip juga tetap menjadi bagian dari dinamika perlombaan AI. China dilaporkan mengembangkan chip AI analog yang diklaim sangat efisien, dengan kemampuan yang disebut 1.000 kali lebih cepat dan hanya menggunakan 1 persen energi dibanding GPU digital. Jika klaim tersebut terbukti dan diadopsi luas, peta persaingan AI global berpotensi kembali berubah.