Layanan internet di Kabupaten Kepulauan Sangihe diperkirakan mengalami gangguan selama beberapa hari pada April 2026. Gangguan ini berkaitan dengan pekerjaan perbaikan kabel serat optik bawah laut di perairan Sangihe dan Talaud.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kepulauan Sangihe, Ronald Lumiu, mengatakan gangguan jaringan sementara diperkirakan terjadi pada 16 hingga 21 April 2026. Periode tersebut disebut sebagai waktu dampak terbesar terhadap layanan internet, meski pekerjaan perbaikan direncanakan berlangsung lebih panjang.
Menurut Lumiu, pemerintah daerah sebelumnya mengikuti rapat koordinasi dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 9 Maret 2026. Rapat itu juga dihadiri Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) untuk membahas rencana perbaikan kabel jaringan Palapa Ring Tengah pada ruas Tahuna–Melonguane.
Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa pekerjaan perbaikan akan dilakukan mulai 1 April hingga akhir April 2026. Namun, gangguan yang paling terasa diperkirakan terjadi selama lima hari pada pertengahan bulan, yakni 16–21 April.
Lumiu menyebut pemerintah daerah telah menyampaikan sejumlah catatan kepada BAKTI, terutama terkait pentingnya akses internet bagi masyarakat dan lembaga pelayanan publik. Ia menilai internet telah menjadi kebutuhan dasar, baik untuk individu maupun institusi.
Di sisi lain, Lumiu menyampaikan bahwa titik layanan internet milik BAKTI di Sangihe—sekitar 104 titik yang tersebar di desa, sekolah, dan puskesmas—disebut tidak terdampak gangguan tersebut. Meski demikian, pemerintah daerah mengusulkan peningkatan kapasitas bandwidth agar pemanfaatannya bisa lebih optimal selama masa gangguan. Usulan itu, kata Lumiu, telah disetujui pihak BAKTI.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe juga telah melaporkan rencana perbaikan jaringan kepada bupati. Selain itu, pemerintah meminta BAKTI menerbitkan surat edaran resmi untuk wilayah terdampak serta melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat mengenai pekerjaan perbaikan dan dampaknya.
Lumiu mengatakan pekerjaan perbaikan tidak dapat ditunda karena kondisi jaringan memerlukan penanganan segera. Jika dibiarkan, kerusakan dikhawatirkan dapat semakin parah.
Ia menambahkan, BAKTI juga akan mengkaji dampak gangguan internet terhadap kegiatan pendidikan. Sekolah yang menggunakan jaringan BAKTI dan tidak terdampak gangguan akan didorong untuk berbagi akses dengan sekolah lain yang mengalami gangguan, dengan koordinasi bersama instansi terkait.