Suasana Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tampak sepi pada Kamis (19/2/2026) siang, saat mahasiswa menjalani libur tengah semester. Namun, di sebuah laboratorium kecil, Prof Riyanarto Sarno tetap bekerja bersama beberapa mahasiswa, perangkat komputer, mesin cetak 3D, serta prototipe hasil risetnya.
Di laboratorium itu, Prof Riyanarto mengembangkan BrainRY dan BrainNAV, inovasi alat kesehatan yang dilengkapi teknologi akal imitasi (AI) untuk mendukung operasi bedah saraf otak melalui sistem stereotaktik. Menurutnya, penggunaan sistem tersebut dapat membantu dokter memangkas waktu operasi sekaligus meningkatkan presisi penentuan target anatomi.
Ia menjelaskan, prosedur yang sebelumnya dapat memakan waktu sekitar 10 jam bisa dipersingkat menjadi lima hingga enam jam karena operasi direncanakan lebih dahulu, termasuk menyiapkan material yang dibutuhkan. Inovasi BrainRY dan BrainNAV disebut sebagai stereotaktik nomor tiga di dunia dan telah digunakan di RSUD dr Soetomo serta National Hospital.
Sejumlah inovasi yang dikerjakan Prof Riyanarto juga mengantarkannya masuk daftar ilmuwan top dunia. Di ITS, ia mencatat 677 sitasi sepanjang tahun 2024 pada bidang Artificial Intelligence (AI) dan Image Processing. Risetnya tidak hanya berkutat pada kesehatan, tetapi juga merambah bidang ekonomi seperti aplikasi saham, teknologi drone, hingga pertanian, dengan beberapa di antaranya telah diaplikasikan.
Prof Riyanarto menilai kolaborasi menjadi kunci dalam menghasilkan riset dan inovasi. Ia bekerja bersama mahasiswa untuk menghasilkan keluaran riset berupa publikasi artikel ilmiah maupun prototipe. Ia juga menjelaskan tahapan pengembangan riset berdasarkan tingkat kesiapterapan teknologi (TKT), mulai dari TKT 1–3 yang dapat menjadi bahan tesis atau disertasi dan menghasilkan publikasi, hingga pengembangan riset terapan pada TKT 4–6 yang berujung pada prototipe.
Selain kolaborasi internal, ia juga menyebut kerja sama lintas institusi, termasuk dengan peneliti dari Jepang, Austria, Kanada, serta Stanford University. Upaya-upaya tersebut dipandang sebagai bagian dari langkah ITS untuk meningkatkan posisi di pemeringkatan global. Dalam data Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR), ITS saat ini berada di peringkat 509 dunia dan menargetkan masuk top 300 kampus kelas dunia.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, menyatakan arah riset ITS tidak semata mengejar kuantitas publikasi, melainkan juga kualitas, dampak, dan reputasi global. Sepanjang 2020 hingga 2025, ITS mencatat publikasi 4.950 jurnal internasional bereputasi.
Menurut Fadlilatul, strategi yang ditempuh mencakup peningkatan publikasi pada jurnal bereputasi tinggi (top-tier, Q1, dan Q2), peningkatan sitasi per dosen, penguatan kolaborasi internasional strategis, serta hilirisasi riset agar berdampak nyata bagi industri dan masyarakat. ITS juga menargetkan penguatan bidang unggulan berbasis teknologi dan rekayasa sebagai diferensiasi di level global.
Untuk mencapai target tersebut, ITS memperkuat ekosistem riset melalui pendanaan internal bagi dosen, insentif publikasi top-tier, Q1, dan Q2, pembiayaan Article Processing Charge (APC), serta dukungan proofreading internasional. Kolaborasi global didorong melalui joint research, joint publication, post-doctoral fellow, visiting professor, dan kerja sama dengan universitas top dunia.
Fadlilatul menyebut ITS juga berfokus pada flagship research area, seperti energi terbarukan, teknologi maritim, kendaraan listrik dan otonom, kecerdasan artifisial, material maju, pangan, serta kesehatan berbasis teknologi. Di sisi lain, hilirisasi dan kemitraan industri menjadi perhatian agar riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi menghasilkan paten, prototipe, dan startup teknologi.
Ia menambahkan, ITS mengintegrasikan riset mahasiswa sehingga mahasiswa S1 hingga S3 terlibat aktif dalam roadmap riset dosen dan pusat unggulan. Pertumbuhan jumlah sitasi dan kolaborasi internasional juga disebut konsisten, yang menjadi indikator penting dalam pemeringkatan global seperti QS dan THE.
Meski demikian, Fadlilatul mengakui terdapat tantangan dalam menghasilkan riset yang berdampak dan berkualitas. Di antaranya kompetisi global yang ketat, kebutuhan peningkatan publikasi bereputasi internasional, sitasi, dan reputasi internasional, serta menjaga kontinuitas regenerasi tim riset dosen dan mahasiswa. Tantangan lain mencakup pendanaan riset skala besar dan berkelanjutan yang berorientasi deep-tech dan hilirisasi, kualitas kolaborasi internasional strategis, serta transformasi budaya riset menuju riset berdampak tinggi.
Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, menyampaikan ITS mengalokasikan dana hingga Rp83 miliar untuk riset dan inovasi. Ia berharap dukungan tersebut dapat mengurangi kendala riset dan mendorong dosen memiliki publikasi, termasuk melalui kolaborasi.
Menurutnya, fokus riset ITS tidak hanya melahirkan inovasi berkelanjutan, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan ITS mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat dirasakan manfaatnya oleh publik.
Dalam upaya mengejar target top 300, Prof Bambang juga menyebut ITS menata citra di mata dunia melalui transparansi dan akuntabilitas sebagai bentuk kepercayaan publik, serta memperkuat kolaborasi internasional untuk meningkatkan reputasi kampus. Ia menambahkan, ITS tidak semata mengejar peringkat, tetapi mengajak sivitas akademika menyukseskan program berkelanjutan. Menurutnya, ketika dampak kerja kampus meluas, peningkatan peringkat akan mengikuti.