BERITA TERKINI
Pengguna TikTok di AS Ramai-ramai Hapus Aplikasi Usai Pengumuman Perusahaan Gabungan Baru

Pengguna TikTok di AS Ramai-ramai Hapus Aplikasi Usai Pengumuman Perusahaan Gabungan Baru

Tekanan terhadap TikTok kembali menguat di Amerika Serikat (AS) setelah pemerintah setempat meminta induknya, ByteDance asal China, melakukan divestasi atas operasional TikTok di AS atau menghadapi pemblokiran permanen secara nasional.

Setelah negosiasi panjang di tengah ketegangan geopolitik AS dan China, operasional TikTok di AS akhirnya jatuh ke tangan entitas AS. Namun, tantangan baru muncul ketika TikTok mengumumkan rencana pembentukan perusahaan gabungan baru untuk mengamankan operasionalnya di AS di bawah kepemimpinan entitas AS. TikTok menunjuk Adam Presser, mantan kepala operasional TikTok, sebagai CEO perusahaan gabungan tersebut.

Di tengah pengumuman itu, banyak pengguna TikTok di AS dilaporkan memutuskan menghapus aplikasinya. Dalam lima hari terakhir, rata-rata pengguna yang menghapus TikTok meningkat hingga 150% dibandingkan tiga bulan sebelumnya, berdasarkan data firma riset pasar Sensor Tower yang dikutip CNBC International pada Selasa (27/1/2026).

Salah satu pemicu keraguan publik adalah pembaruan kebijakan privasi yang diminta untuk disetujui pengguna pada pekan lalu. Dalam kebijakan baru yang ramai dibagikan di media sosial, disebutkan sejumlah jenis data yang kemungkinan dapat dihimpun TikTok, termasuk data pribadi sensitif seperti ras dan etnik asal serta orientasi seksual. Kebijakan itu juga memuat permintaan data seperti kewarganegaraan atau status imigrasi, serta informasi keuangan.

Meski menuai kontroversi, deskripsi mengenai jenis data tersebut disebut bukan hal baru. Versi kebijakan sebelumnya yang diarsipkan pada Agustus 2024 juga memuat poin-poin serupa. Namun, isu ini menjadi viral bersamaan dengan pengumuman operasional TikTok di bawah perusahaan gabungan baru, sehingga memunculkan sentimen negatif di ruang publik.

Kreator konten Dre Ronayne, yang mengaku memiliki hampir 400.000 pengikut di TikTok, menyatakan telah menghapus aplikasi tersebut pada akhir pekan lalu. “Jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena terms and condition (T&C) dan penyensoran yang sudah tak terkontrol, Anda juga bisa melakukannya,” tulisnya dalam unggahan di Threads.

Selain kekhawatiran soal kebijakan, sejumlah kreator juga melaporkan gangguan saat mengunggah konten. Beberapa mengeluhkan video tidak bisa diunggah ke aplikasi. Kreator TikTok Nadya Okamoto mengatakan TikTok AS belum menjelaskan secara rinci dampak pembentukan perusahaan gabungan baru terhadap operasional yang berjalan. Okamoto, yang memiliki lebih dari 4 juta pengikut, menyebut situasi ini memicu kecemasan di kalangan pengguna. “Hal ini yang menyebabkan banyak orang paranoid, karena kami tak tahu apa yang sedang terjadi,” ujarnya.

Okamoto juga menyampaikan bahwa ia mengalami kendala selama beberapa hari dan tidak dapat mengunggah video baru selama 24 jam. Dalam situasi tersebut, ia memilih mengunggah konten di Instagram milik Meta dan YouTube milik Google.

Sebuah akun di X yang terafiliasi dengan perusahaan gabungan baru TikTok menyebut gangguan layanan disebabkan pemadaman listrik di sebuah pusat data (data center) di AS. “Kami berkoordinasi dengan mitra data center kami untuk menstabilkan layanan kami. Kami meminta maaf atas gangguan ini dan semoga bisa cepat pulih,” tulis akun tersebut.

Meski angka penghapusan aplikasi meningkat, Sensor Tower mencatat tingkat pengguna aktif TikTok di AS relatif stagnan dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, minat terhadap aplikasi pesaing terlihat menguat. Sensor Tower melaporkan unduhan aplikasi UpScrolled meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya, sementara Skylight Social naik 919%. Adapun unduhan Rednote asal China meningkat 53% dari pekan ke pekan. TikTok tidak merespons permintaan komentar.