BERITA TERKINI
Pengacara: Aplikasi Klaim Berbasis AI di California Berisiko Meremehkan Kompensasi Korban Kecelakaan

Pengacara: Aplikasi Klaim Berbasis AI di California Berisiko Meremehkan Kompensasi Korban Kecelakaan

California mencatat hampir 384.246 kecelakaan mobil sepanjang 2025, atau rata-rata lebih dari 1.000 insiden per hari. Di tengah tingginya angka kecelakaan, sebagian korban kini menghadapi tantangan baru saat mengajukan klaim: penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat menghasilkan penawaran penyelesaian instan dari perusahaan asuransi.

Menurut pengacara cedera pribadi Lem Garcia, penawaran cepat yang muncul melalui aplikasi tersebut berisiko meremehkan nilai kerugian korban, termasuk cedera, kehilangan gaji, serta kebutuhan perawatan di masa depan. Ia menyebut tawaran awal kerap tampak besar—sering kali beberapa ribu dolar—namun belum tentu mencerminkan dampak cedera yang bisa berkembang seiring waktu, seperti nyeri leher dan punggung.

Garcia menilai, praktik ini dapat membuat korban melepaskan haknya, terutama ketika sistem komputer menilai kecelakaan sebagai insiden kecil. “Anda tidak lagi hanya bernegosiasi dengan adjuster—Anda menghadapi program yang dilatih untuk menghemat uang perusahaan asuransi,” kata Garcia. Ia mengatakan, dalam sejumlah kasus, klien menerima tawaran penyelesaian hanya beberapa jam atau hari setelah mengirim rincian kerusakan melalui aplikasi.

Isu ini muncul di tengah perubahan aturan cakupan minimum cedera tubuh di California. AB 1107 menaikkan batas minimum menjadi 30.000/60.000 dolar AS. Namun, Garcia memperingatkan bahwa peningkatan batas minimum tidak otomatis mencegah penawaran yang dinilai terlalu rendah, terutama jika penilaian awal didorong oleh proses otomatis.

Sementara itu, California baru-baru ini mengatur penggunaan AI dalam asuransi kesehatan melalui SB 1120, tetapi penggugat cedera akibat kecelakaan kendaraan disebut tidak memiliki perlindungan serupa. Dalam SB 1120, AI tidak boleh membuat keputusan akhir tentang cakupan tanpa tinjauan dokter berlisensi atau profesional kesehatan yang kompeten. Perusahaan asuransi juga dilarang hanya mengandalkan AI untuk melakukan penolakan, rekomendasi harus berbasis catatan serta riwayat kesehatan individu, dan alat AI diwajibkan transparan serta dapat diaudit untuk memastikan kepatuhan dan mencegah diskriminasi.

SB 1120 berlaku untuk rencana layanan kesehatan, perusahaan asuransi disabilitas, dan kontraktor terkait, serta sejalan dengan AB 3030 yang mewajibkan pengungkapan ketika AI generatif digunakan untuk komunikasi pasien. Aturan tersebut dirancang agar perawatan pasien tetap dipandu keahlian medis, bukan keputusan algoritmik otomatis.

Garcia mengatakan perusahaan asuransi sebenarnya telah lama memakai program komputer untuk mengevaluasi dan menyelesaikan perkara cedera, dan AI hanya mempercepat proses itu. Ia juga menekankan bahwa perusahaan asuransi dari pengemudi yang dianggap bersalah tidak memiliki kewajiban hukum kepada pihak yang terluka. Karena itu, ia menyatakan korban tidak harus menerima tawaran apabila merasa cedera mereka diremehkan dan tetap memiliki hak konstitusional untuk membawa perkara ke hadapan juri.

Di sisi lain, penggunaan perangkat lunak dalam penilaian klaim juga menjadi sorotan melalui tuntutan hukum terhadap perusahaan asuransi seperti State Farm. Gugatan tersebut menuduh perangkat lunak secara sistematis meremehkan nilai kendaraan yang mengalami kerugian total, yang disebut dapat menurunkan pembayaran beberapa persen per klaim. Kasus ini menyoroti bagaimana algoritma dapat berdampak pada besaran kompensasi.

Perusahaan asuransi menyatakan AI mempercepat penyelesaian klaim. Namun, sejumlah pihak memperingatkan bahwa penawaran yang terlalu cepat dapat mendorong korban menerima pembayaran sebelum cedera sepenuhnya teridentifikasi, sehingga biaya perawatan lanjutan—seperti terapi fisik, suntikan, atau pembedahan—berpotensi ditanggung sendiri.

Garcia menyebut beberapa tanda peringatan bahwa klaim mungkin diremehkan, antara lain tawaran yang datang segera setelah kecelakaan, adanya tekanan untuk menandatangani sebelum perawatan selesai, serta penyelesaian yang mengabaikan rasa sakit berkelanjutan atau kehilangan pendapatan.