Sejumlah perusahaan modal ventura (venture capital/VC) menilai tren pendanaan untuk perusahaan rintisan (startup) di Indonesia masih melemah. Koreksi aliran dana ini dipengaruhi sentimen global, termasuk perubahan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed).
Founder & Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengatakan pola pendanaan saat ini berbeda jauh dibandingkan periode sebelumnya. Ia menyoroti rentang 2009 hingga Maret 2022, ketika suku bunga berada di level rendah, sebagai masa ketika siklus pendanaan bergerak dengan pola yang berbeda dari kondisi sekarang.
Menurut Willson, suku bunga rendah mendorong arus dana mengalir ke negara berkembang untuk investasi modal ventura demi imbal hasil yang lebih baik. Situasi tersebut, kata dia, turut memengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnis pada masa itu. “Ketika tingkat suku bunga rendah, dana akan mengalir ke negara berkembang seperti kita untuk berinvestasi ke modal risiko yang membuat mereka memperoleh imbal hasil lebih baik. Sehingga di periode tersebut, cara kita menjalankan bisnis berbeda jauh dibandingkan sekarang. Itulah kondisi pasar [hari ini],” ujarnya dalam diskusi Tech in Asia dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Di luar faktor makro, Willson menilai tata kelola serta manajemen sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak startup. Sejumlah kasus belakangan menyorot isu integritas dan kepatuhan (compliance). Di antaranya, CEO fintech PT Investree Radhika Jaya (Investree), Adrian A. Gunadi, resmi ditahan Kepolisian RI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha perseroan. Kasus lain menimpa PT Multidaya Teknologi Nusantara (eFishery) yang dilaporkan tersangkut dugaan kecurangan.
Meski demikian, Willson menekankan tidak adil menggeneralisasi persoalan tersebut kepada seluruh founder di Indonesia maupun Asia Tenggara. “Masih banyak founder yang melakukan hal yang benar. Jadi tidak adil kalau kita menaruh bendera hitam ke founder Indonesia atau Asia Tenggara, dan bilang banyak fraud yang sedang terjadi. Ada bad apple, ada good apple,” tegasnya.
Founding Partner Init-6 sekaligus Co-Founder Bukalapak (PT Bukalapak.com Tbk/BUKA), Achmad Zaky, menambahkan bahwa membawa startup menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia membutuhkan upaya besar. Ia menilai startup dengan valuasi di bawah US$10 juta masih memiliki ruang pertumbuhan yang lebar dibandingkan perusahaan yang sudah lebih matang.
“Saya memilih mereka untuk berkembang. Layaknya anak-anak, jika Anda mengatur anak-anak, mereka jadi kurang kreatif. Tentunya kalau Anda remaja, butuh pendampingan. Kalau perusahaan Anda menengah, Anda harus mematuhi [regulasi] OJK,” kata Zaky.
Untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan periode “tech winter”, Willson menekankan pentingnya kejujuran founder serta pemahaman menyeluruh atas bisnis, produk, dan industri yang digeluti.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid menyatakan pemerintah terus berupaya meyakinkan investor guna memuluskan arus investasi asing langsung ke Indonesia, termasuk ke sektor startup. “Tingkat keberhasilan jauh lebih tinggi, yang berasal dari tahap [perusahaan] growth dan awal, mencapai US$10 miliar saat ini. Sementara kegagalan [startup] hanya kurang dari US$1 miliar. Kami menyadari, ini peluang bagi kami untuk meyakinkan startup kami dapat berkembang pesat,” ujar Meutya saat doorstop dengan media.
Laporan Tech in Asia menyebut Indonesia termasuk ekosistem startup yang berkembang di Asia Tenggara bersama Singapura, Malaysia, dan Filipina. Dari sekitar 200 responden—karyawan startup tahap awal hingga Seri A dan bootstrap—di Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, sebanyak 76% menyatakan optimistis terhadap industri startup tahun ini. Sementara itu, 5% responden menyebut perusahaannya akan mencetak laba tahun ini.
Dari sisi pendanaan, laporan yang sama mencatat penurunan pada kuartal III/2025 dengan nilai US$0,1 miliar dan 28 putaran pendanaan. Sebagai perbandingan, kuartal II/2025 mencatat 68 putaran dengan nilai US$1,2 juta, sedangkan kuartal I/2025 terdapat 114 putaran dengan nilai US$2,1 juta.