Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menaruh perhatian pada penggunaan gadget dan masifnya platform digital yang dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan psikologis pada anak usia sekolah. Pemkot menilai fenomena ini perlu disikapi secara serius melalui pendekatan ilmiah sebelum dirumuskan menjadi kebijakan pendidikan maupun kesehatan mental pelajar.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan perkembangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pelajar. Akses media sosial yang terbuka luas membuat anak-anak terus terhubung dengan informasi, tren, dan gaya hidup digital yang bergerak cepat.
Farhan menyoroti salah satu fenomena yang muncul dari intensitas penggunaan gadget, yakni FOMO (fear of missing out), kondisi psikologis ketika seseorang takut tertinggal informasi maupun tren di lingkungan digitalnya. Menurutnya, dorongan untuk selalu relevan dan mengikuti arus media sosial dapat memicu tekanan mental pada sebagian pelajar, terutama ketika mereka merasa tidak mampu mengikuti perkembangan yang ada.
“Ketika mereka tidak bisa mengikuti atau keep up dengan perkembangan yang ada, muncul perasaan tertekan,” ujar Farhan, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, perasaan tertekan itu dapat memunculkan berbagai respons emosional, mulai dari cemas, rendah diri, hingga stres. Farhan juga menilai interaksi sosial yang sebelumnya banyak terjadi secara langsung kini bergeser ke ruang digital, sehingga kebutuhan akan validasi sosial kerap bergantung pada respons di media sosial.
Meski demikian, Farhan menegaskan penggunaan gadget bukan satu-satunya faktor penyebab gangguan kesehatan mental pada pelajar. Ia mengingatkan agar persoalan kesehatan mental tidak disederhanakan hanya pada aspek teknologi.
“Kondisi psikologis anak juga dipengaruhi berbagai faktor lain, lingkungan keluarga, pola pendidikan, hubungan sosial, hingga tekanan akademik yang dihadapi siswa sehari-hari,” ucapnya.
Untuk mendapatkan gambaran faktual mengenai kondisi kesehatan mental pelajar di Kota Bandung, Farhan mendorong penelitian komprehensif yang melibatkan organisasi profesi psikologi, psikolog klinis, serta perguruan tinggi. Hasil kajian tersebut, kata dia, akan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih terarah, baik di sektor pendidikan, layanan kesehatan mental, maupun regulasi penggunaan perangkat digital di lingkungan sekolah.
“Setiap kebijakan yang diambil berbasis data dan bukan sekadar asumsi. Pendekatan ilmiah mampu menghasilkan strategi pencegahan yang efektif sekaligus berkelanjutan,” katanya.
Selain mendorong penelitian, Farhan mengajak orang tua dan pihak sekolah berperan lebih aktif dalam mendampingi anak saat menggunakan gadget. Pendampingan dinilai penting agar teknologi tetap memberi manfaat tanpa memunculkan dampak psikologis negatif.
Ia juga menekankan perlunya literasi digital sejak dini, termasuk pengaturan durasi penggunaan perangkat, pemahaman etika bermedia sosial, serta komunikasi terbuka antara anak, keluarga, dan guru.
“Anak-anak membutuhkan ruang dialog yang aman agar dapat menyampaikan tekanan atau persoalan yang mereka alami di dunia digital maupun kehidupan sehari-hari,” ujar Farhan.
Farhan menambahkan, seiring meningkatnya penggunaan teknologi di kalangan pelajar, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sekolah, dan keluarga diperlukan untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat serta mendukung tumbuh kembang mental generasi muda.