Kementerian Pertanian menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat kolaborasi riset, inovasi teknologi, hingga komersialisasi hasil penelitian di sektor pangan. Sinergi lintas lembaga ini dinilai penting karena selama ini sebagian besar riset perguruan tinggi belum berhasil masuk ke pasar industri.
Pemerintah menilai hambatan hilirisasi riset masih besar. Bahkan, disebutkan hampir 99 persen inovasi akademik berhenti pada publikasi ilmiah tanpa diterapkan secara nyata di sektor produksi. Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap riset pertanian dapat lebih cepat diterapkan di industri, mendorong modernisasi pertanian, serta mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Kesepakatan tersebut melibatkan sedikitnya 18 perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat inovasi pada berbagai komoditas pangan strategis, mulai dari padi, jagung, kedelai, hingga kopi dan kakao.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan sektor pertanian tidak akan berkembang optimal tanpa dukungan riset dan inovasi yang kuat. Ia menilai kerja sama pemerintah, akademisi, dan industri menjadi kunci agar hasil penelitian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pertanian pangan tidak mungkin maju tanpa inovasi,” kata Amran usai penandatanganan kesepakatan bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto serta Kepala BRIN Arif Satria di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Amran juga menyoroti banyaknya penelitian kampus yang dinilai berkualitas, namun belum berdampak pada perekonomian karena tidak terhubung dengan kebijakan maupun kebutuhan industri. “Banyak penelitian di perguruan tinggi yang sangat baik, tetapi kalau tidak ditarik menjadi kebijakan dan tidak masuk ke industri, maka hanya berhenti di atas kertas,” ujarnya. Menurut dia, ketika inovasi diterjemahkan menjadi kebijakan, dampaknya dapat lebih luas bagi masyarakat.
Senada, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut kolaborasi ini sebagai momentum agar perguruan tinggi berkontribusi lebih nyata dalam program swasembada pangan nasional. Ia menilai minimnya kolaborasi dengan industri maupun pemerintah membuat banyak riset kampus gagal menembus pasar. “Lebih dari 90 persen bahkan hampir 99 persen hasil penelitian di dunia akademik tidak berhasil masuk ke pasar komersial,” kata Brian.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar inovasi dari perguruan tinggi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Kemendiktisaintek juga menyatakan rencana untuk mengonsolidasikan perguruan tinggi di seluruh Indonesia agar lebih fokus pada pengembangan riset komoditas strategis yang mendukung kemandirian pangan.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan pertanian merupakan fondasi penting bagi pembangunan peradaban bangsa sehingga perlu ditopang riset dan teknologi yang kuat. BRIN, kata dia, telah menyiapkan peta jalan riset pangan nasional agar pengembangan inovasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi berjalan selaras dan tidak saling tumpang tindih.
Arif juga mengungkapkan BRIN telah menghasilkan 188 paten di bidang pangan yang siap dimanfaatkan oleh industri. “BRIN siap mendukung percepatan hilirisasi inovasi di sektor pangan,” ujarnya.
Kesepakatan antara Kementerian Pertanian, Kemendiktisaintek, dan BRIN mencakup koordinasi riset pada berbagai komoditas strategis nasional. Kerja sama juga meliputi pengembangan alat mesin pertanian, pupuk, teknologi pengolahan pascapanen, hingga pertanian modern berbasis teknologi.
Program tersebut mencakup penelitian bersama, perekayasaan teknologi pertanian, pertukaran data riset, serta pemanfaatan sarana dan prasarana laboratorium secara bersama. Selain mempercepat hilirisasi teknologi, kolaborasi ini diharapkan memperkuat ekosistem riset nasional, terutama dalam meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian untuk menambah nilai komoditas pertanian.
Pemerintah berharap sinergi pemerintah, kampus, dan industri dapat mempercepat adopsi teknologi di sektor pertanian, dengan fokus pengembangan pada komoditas strategis seperti padi, jagung, kedelai, kopi, dan kakao.