Pembelajaran yang terhubung dengan penerapan di dunia nyata semakin menjadi perhatian dalam sektor pendidikan. Sejumlah lembaga pendidikan, dari perguruan tinggi hingga sekolah menengah, mengembangkan model dan produk yang berangkat dari kebutuhan lokal serta melibatkan peran aktif peserta didik.
Di wilayah Dataran Tinggi Tengah, Universitas Tay Nguyen menempatkan kewirausahaan sebagai salah satu arah penting untuk memanfaatkan keunggulan setempat dan mendorong inisiatif mahasiswa. Selama bertahun-tahun, universitas tersebut secara konsisten mendorong penelitian ilmiah di kalangan mahasiswa dan memandangnya sebagai wadah untuk membentuk ide kewirausahaan. Sejumlah proyek penelitian tingkat mahasiswa dan universitas yang memiliki penerapan tinggi kemudian dikembangkan menjadi produk kewirausahaan.
Salah satu capaian yang disebut menonjol adalah keberhasilan meraih juara pertama tingkat nasional pada Kompetisi Ide Kewirausahaan Mahasiswa 2024 melalui produk “Alat Bantu untuk Mengetuk Durian”.
Nguyen Trinh Thanh Nguyen, Wakil Kepala Departemen Sains, Kerja Sama dan Inovasi Universitas Tay Nguyen, menjelaskan bahwa pengembangan alat tersebut berangkat dari praktik produksi pertanian setempat, khususnya budidaya durian. Tim peneliti menilai petani masih menghadapi kesulitan dalam menentukan tingkat kematangan dan kualitas durian. Cara manual seperti mengetuk dan mendengarkan suara dinilai sangat bergantung pada pengalaman individu, kurang akurat, dan tidak stabil, sehingga dapat menimbulkan risiko dalam panen maupun kegiatan usaha.
Untuk menjawab persoalan itu, tim mengembangkan alat yang mengintegrasikan sensor dan algoritma guna memproses karakteristik spektrum suara ketukan, sehingga dapat menilai kematangan durian secara lebih objektif dan akurat. Produk tersebut disebut memiliki keunggulan dari sisi kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan keandalan, serta dinilai berpotensi diterapkan luas dalam produksi dan perdagangan.
Di tingkat pendidikan menengah, penerapan pembelajaran berbasis praktik juga dilakukan melalui gerakan lingkungan. Sejalan dengan Kurikulum Pendidikan Umum 2018 yang menekankan keterkaitan pengajaran dan pembelajaran dengan aplikasi praktis, SMA Kejuruan Ly Tu Trong di Kota Can Tho mengembangkan dan menerapkan model sekolah yang menolak sampah plastik.
Perwakilan sekolah menyatakan pihaknya memandang tanggung jawab sekolah tidak hanya melatih sumber daya manusia berkualitas, tetapi juga menumbuhkan karakter dan membangun gaya hidup beradab bagi generasi muda, termasuk gaya hidup hijau dan ramah lingkungan. Sekolah aktif berpartisipasi dalam gerakan perlindungan lingkungan dan membangun lingkungan sekolah yang hijau, bersih, indah, dan aman. Sekolah juga menetapkan target agar 100% anggotanya dan kaum muda berkomitmen menerapkan gerakan melawan sampah plastik sebagai tanggung jawab pribadi sekaligus kewajiban kolektif.
Untuk mendukung program tersebut, sekolah membentuk klub Zero Waste yang pada awalnya beranggotakan lebih dari 50 orang dan kemudian berkembang. Klub ini dibagi ke dalam sejumlah kelompok kerja, antara lain untuk komunikasi, pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, pengelolaan sampah daur ulang, produksi bioenzim, dan logistik. Pembagian peran itu disebut membantu memperdalam kegiatan dan membangun fondasi yang lebih kokoh bagi model yang dijalankan.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menerapkan sejumlah solusi seperti kampanye peningkatan kesadaran, pengumpulan dan pemilahan sampah untuk didaur ulang, serta penggunaan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Model nol sampah plastik tersebut dipandang sebagai perpaduan antara tujuan pendidikan sekolah, realitas sosial, dan peran kreatif siswa. Keberhasilan program ini disebut memberi pelajaran tentang pendidikan praktis, membantu siswa memahami nilai tindakan mereka, sekaligus berkontribusi pada perlindungan lingkungan sekolah, kesehatan, dan pembiasaan gaya hidup hijau, serta mendorong pengaruh positif ke masyarakat.
Wakil Menteri Tetap Pendidikan dan Pelatihan, Pham Ngoc Thuong, menyatakan banyak lembaga pendidikan telah menerapkan model pendidikan praktis secara efektif dalam beberapa waktu terakhir. Contohnya meliputi sekolah yang menolak sampah plastik, kebun sayur di sekolah, gerbang lalu lintas aman di pintu masuk sekolah, serta ruang kelas yang bersih, indah, dan ramah. Di sisi lain, perguruan tinggi juga menjalankan berbagai kegiatan penelitian ilmiah, inovasi, dan kewirausahaan mahasiswa dengan menekankan efektivitas serta keterkaitan dengan realitas lokal.
Di berbagai daerah, lebih dari 300 model sekolah teladan telah dihimpun dan disebarluaskan, mencakup upaya membangun lingkungan sekolah yang hijau, bersih, dan indah, melestarikan budaya tradisional, serta meningkatkan penerapan teknologi informasi dalam pengajaran. Daerah-daerah tersebut mengintegrasikan isi gerakan ke dalam kegiatan profesional, kegiatan kelompok, dan aktivitas ekstrakurikuler untuk meningkatkan kesadaran serta memperluas dampaknya di kalangan pejabat, guru, dosen, dan siswa. Inisiatif ini disebut berkontribusi pada perbaikan kondisi belajar, peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan keterampilan hidup, dan persiapan siswa untuk berwirausaha.