BERITA TERKINI
PBNU Tekankan Literasi Digital dan Pencetakan Ulama Digital untuk Menangkal Konten Radikal di Internet

PBNU Tekankan Literasi Digital dan Pencetakan Ulama Digital untuk Menangkal Konten Radikal di Internet

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyoroti tantangan baru yang dihadapi organisasi tersebut pada abad kedua, terutama di ruang siber. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, NU menilai adaptasi teknologi menjadi penting untuk membendung narasi ekstrem yang kian masif di media sosial, sebagaimana disampaikan pada Jumat, 20 Februari 2026.

NU memandang perubahan pola konsumsi informasi telah menggeser audiens dari mimbar masjid konvensional menuju layar ponsel pintar dan platform konten instan. Pergeseran ini dinilai menghadirkan tantangan bagi penyebaran Islam wasathiyah atau moderat, yang kerap kalah cepat dibandingkan narasi radikal yang dikemas secara bombastis.

Dalam konteks ini, NU menekankan bahwa kesenjangan digital bukan semata soal akses internet. Tantangan utamanya juga mencakup kesenjangan kemampuan dalam memproduksi narasi moderat yang berakar pada khazanah kitab kuning. NU mengingatkan, dominasi pemahaman yang kaku di ruang publik maya dikhawatirkan dapat mengganggu keharmonisan beragama di Indonesia.

Untuk merespons situasi tersebut, NU mendorong strategi kebudayaan siber melalui sejumlah langkah. Pertama, “jihad literasi digital” yang diarahkan untuk membangun ekosistem agar setiap warga Nahdliyin dapat menjadi agen moderasi di internet. Kedua, konsep “vaksin konten” melalui produksi konten moderasi yang estetis dan mendalam sebagai penawar narasi ekstremisme. Ketiga, “riyadhah digital” yang menempatkan penguatan literasi digital sebagai bagian dari latihan spiritual masa kini.

Selain itu, NU juga menargetkan lahirnya sosok “Ulama Digital”. Figur ini diharapkan tidak hanya mahir dalam bahtsul masail secara tekstual, tetapi juga cakap menerjemahkan fiqih dan tasawuf ke dalam bahasa konten digital yang lebih ringan. Dengan kemampuan tersebut, Ulama Digital diproyeksikan mampu menjaga sanad keilmuan yang valid di tengah bisingnya informasi di dunia maya.

Langkah penguatan dakwah digital ini disebut sejalan dengan prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih (merawat tradisi lama yang baik) dan al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (mengambil hal baru yang lebih baik), yang kini diimplementasikan melalui medium digital. Strategi tersebut menjadi bagian dari visi besar NU dalam menavigasi tantangan pada abad kedua organisasi.