Kebiasaan bermain gadget menjelang tidur disebut dapat memicu insomnia. Kondisi ini dikaitkan dengan paparan blue light dari layar perangkat elektronik yang dapat menurunkan produksi hormon melatonin, hormon yang berperan membantu tubuh merasa rileks dan mengantuk pada malam hari.
Insomnia merupakan gangguan tidur ketika seseorang mengalami kekurangan tidur atau kesulitan tidur meski memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat. Jika tidak ditangani dengan baik, insomnia dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental serta menurunkan kualitas hidup.
Dalam siklus biologis harian selama 24 jam, tubuh secara alami memproduksi hormon kortisol saat pagi hingga sore untuk membantu tetap terjaga. Menjelang malam, produksi melatonin meningkat sehingga tubuh lebih rileks dan muncul rasa kantuk. Namun, perangkat elektronik dengan layar seperti gadget, televisi, dan komputer memancarkan cahaya dengan panjang gelombang pendek yang dikenal sebagai blue light. Paparan cahaya ini pada malam hari disebut dapat menekan produksi melatonin, sehingga rasa kantuk berkurang dan waktu tidur menjadi terganggu.
Risiko gangguan tidur akibat penggunaan gadget sebelum tidur tidak hanya terjadi pada orang dewasa dan remaja. Anak-anak juga dinilai rentan mengalami gangguan tidur dan penurunan kualitas tidur. Disebutkan pula adanya temuan penelitian dalam jurnal Child and Adolescent Psychiatric Clinics of North America yang menyatakan anak-anak yang menggunakan gadget sebelum tidur cenderung mengalami gangguan tidur pada malam hari dan merasa kelelahan pada keesokan harinya.
Untuk mencegah insomnia, salah satu langkah yang disarankan adalah mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur. Upaya lain yang disebut dapat membantu antara lain mengurangi waktu tidur siang, menghindari konsumsi makanan atau minuman berkafein, serta rutin berolahraga.
Insomnia yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi aktivitas harian. Dampak yang disebutkan antara lain penurunan produktivitas di sekolah maupun tempat kerja, meningkatnya risiko kecelakaan saat berkendara, gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, serta peningkatan risiko gangguan fisik seperti tekanan darah tinggi dan gangguan jantung.