BERITA TERKINI
Pakar: Startup Indonesia Beralih dari Bakar Uang ke Uji Ketahanan, Investor Makin Selektif

Pakar: Startup Indonesia Beralih dari Bakar Uang ke Uji Ketahanan, Investor Makin Selektif

Perjalanan startup Indonesia dalam satu dekade terakhir bergerak cepat dari fase euforia pendanaan menuju pengetatan. Pola pertumbuhan agresif yang dulu jamak ditemui kini bergeser ke tuntutan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.

Pakar digital dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai perubahan tersebut bukan sekadar siklus, melainkan pergeseran arah yang lebih mendasar. Ia mengingat masa ketika pendanaan lebih mudah mengalir karena investor membawa ekspektasi besar terhadap pasar Indonesia. “Dulu, kita masuk ke fase di mana pendanaan begitu mudah. Startup periode pertama itu bisa tumbuh cepat karena investor datang dengan ekspektasi besar terhadap pasar Indonesia,” ujarnya.

Pada fase awal, modal menjadi pendorong utama pertumbuhan. Banyak startup memperoleh investasi besar bahkan sebelum model bisnis benar-benar matang. Fokus saat itu adalah mempercepat akuisisi pengguna, memperluas pasar, dan membangun dominasi. Strategi “bakar uang” melalui subsidi besar-besaran, promosi agresif, dan ekspansi cepat menjadi pola yang umum, terutama di sektor transportasi online dan e-commerce. “Waktu itu, yang penting growth dulu. Profit belakangan,” kata Heru.

Namun, pendekatan tersebut dinilai tidak dapat berlangsung terus-menerus. Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap pendanaan berubah. Investor disebut semakin selektif dan menaruh perhatian lebih besar pada fundamental bisnis. “Sekarang investor lebih melihat fundamental. Bukan hanya berapa banyak user, tapi apakah bisnisnya sehat,” ujar Heru.

Konsekuensinya, startup yang sebelumnya mengandalkan pertumbuhan cepat kini dituntut menunjukkan efisiensi. Strategi bakar uang tidak lagi mudah diterima, sementara kemampuan mengelola biaya dan menuju profitabilitas menjadi pertimbangan yang lebih menonjol.

Perubahan juga terlihat dari sektor yang dilirik investor. Jika sebelumnya pendanaan banyak mengalir ke transportasi online dan e-commerce, Heru melihat perhatian mulai bergeser ke startup berbasis teknologi, khususnya yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). “Sekarang bukan lagi sekadar platform, tapi bagaimana teknologi itu memberi nilai tambah,” katanya. Menurutnya, AI, data, dan solusi berbasis teknologi menjadi pembeda, dengan startup tidak hanya menghubungkan layanan tetapi mulai menghadirkan solusi yang lebih spesifik.

Di tengah dinamika tersebut, banyak startup melakukan penyesuaian. Efisiensi menjadi kata kunci, ekspansi agresif cenderung ditahan, dan fokus diarahkan kembali pada bisnis inti. Heru menyebut fase ini tidak mudah bagi sebagian pelaku, tetapi sekaligus menjadi proses pendewasaan. “Sekarang ini ujian sebenarnya. Mana yang benar-benar kuat, mana yang hanya ikut tren,” ujarnya.

Heru juga menyoroti peran pemerintah yang dinilai belum maksimal dalam mendukung ekosistem startup. Menurutnya, target melahirkan unicorn dan decacorn tidak cukup hanya berupa wacana tanpa intervensi nyata. “Dulu sempat ada target melahirkan banyak unicorn dan bahkan decacorn. Tapi kalau tidak ada intervensi nyata, itu sulit tercapai,” katanya.

Ia menilai dukungan langsung yang signifikan dari pemerintah, baik dalam bentuk pendanaan maupun fasilitasi konkret, belum terlihat. Program yang sempat digaungkan seperti pendanaan “merah putih” juga disebut belum menunjukkan realisasi yang jelas. “Kalau hanya wacana tanpa implementasi, tentu tidak akan berdampak,” ujarnya.

Meski begitu, Heru menilai perubahan yang terjadi saat ini justru membawa ekosistem ke arah yang lebih sehat. Menurutnya, startup kini tidak lagi dibangun semata di atas ekspektasi tinggi dan valuasi, tetapi pada realitas bisnis yang lebih nyata. “Sekarang ini lebih realistis. Tidak lagi sekadar valuasi, tapi bagaimana bisnis itu bisa bertahan,” katanya.

Dengan perubahan itu, ekosistem startup Indonesia disebut memasuki fase baru: dari euforia menuju seleksi, dari pertumbuhan cepat menuju keberlanjutan. Di tahap ini, kemampuan beradaptasi menjadi penentu, seiring ekosistem yang dinilai tengah belajar menjadi lebih dewasa.